Di bawah ini adalah rilis yang diterima admin melalui email dari Yayasan Kebudayaan Rancage, setelah sebelumnya admin meminta rilis ini melalui Dadan Sutisna (salah seorang pengurus Yayasan Rancage) dan telah mendapatkan ijin untuk mempublisnya:

Keputusan

HADIAH  SASTERA  ”RANCAGE”  2015

Alhamdulillah   Hadiah Sastera  “Rancagé”  untuk sastera Sunda, untuk sastera Jawa dan untuk sastera  Bali  diberikan setiap tahun tanpa putus, tahun ke-27  untuk sastera Sunda,  tahun   ke-22 untuk sastera Jawa, tahun ke -19   untuk sastera Bali, tapi untuk sastera Lampung hadiah “Rancagé”  tidak dapat  diberikan setiap tahun, karena buku karya sastera dalam  bahasa Lampung   tidak selalu  terbit setiap tahun.   Tahun  yang  lalu  (2014) juga tidak   ada  karya  sastera  dalam  bahasa Lampung   yang   terbit, sehingga tahun ini  juga tidak ada Hadiah “Rancagé”  yang  diberikan untuk  sastera Lampung.  Syukurlah  pada tahun yang lalu terbit  karya sastera dalam bahasa Batak, setelah dua tahun  sebelumnya pun setiap tahun  terbit  buku karya sastera dalam  bahasa Batak. Ketika beberapa tahun  yang lalu terbit  buku  sastera  dalam bahasa Batak dan bahasa Banjar,  Yayasan Rancagé  tidak  langsung mempertimbangkannya untuk diberi   Hadiah  “Rancagé”, karena  kuatir nasibnya seperti sastera Lampung  tidak setiap tahun ada buku terbit.  Karena itu kami memutuskan    pemberian Hadiah  “Rancagé” baru dilaksanakan kalau dalam tiga tahun berturut-turut  ada buku baru yang terbit baik dalam bahasa Batak atau bahasa Banjar – atau  bahasa ibu  yang  manapun. Ternyata bahasa Batak  memenuhi persyaratan kami.  Buku dalam bahasa Batak terbit setiap  tahun. Sekarang sudah ada lima judul buku  sastera dalam  bahasa Batak, karena itu tahun  2015 (semoga tahun-tahun  seterusnya juga)  kami memberikan Hadiah  Rancagé untuk sastera Batak buat  pertama  kalinya.[1]

Hadiah Sastera “Rancagé” 2015  untuk sastera Sunda

Dalam tahun 2014,  ada  37 judul  buku terbit dalam  bahasa Sunda. Tapi tidak semuanya  dipertimbangkan untuk  mendapat  Hadiah Rancagé.  Seperti telah ditetapkan, buku karangan Ajip Rosidi, cétak ulang, terjemahan, dan karya-bersama tidak dinilai.  Yang dipertimbangkan untuk mendapat  Hadiah Rancagé  2014  ada 19 judul karya 18 pengarang,  sedang yang dipertimbangkan  untuk  mendapat   Hadiah  Samsoedi, ada dua judul. Ke-19 judul  yang dipertimbangkan untuk mendapat  Hadiah  Rancagé  adalah Dayeuh  Kasareupnakeun  (Kota Menjelang Senja) karya  Nazaruddin Azhar, Handeuleum na  Haté Beureum  (Daun Handeuleum dalam hati Merah) dan DuaWanoja (Dua   Wanita) karangan Chyé Rétty Isnéndés,  Léptop  Kresna karya Yuharno Uyuh, Jurig  Congkang Bisul na Bujur  (Hantu  Congkang  pantatnya bisul) karya H. Usép   Romli HM,  Lagu Ngajadi  (Lagu Menjadi) karya Dian Héndrayana,  Moal Dimumurah (Takkan dijual murah)  karya I. Asikin, Kembang-kembang Anten karya Aam Amilia,  Geulang  Koroncong karya Holisoh ME, Céntang Barang karya  Asikin Hidayat,  Ajo Pitbul karya Tatang Sumarsono, Mahér Budaya Sunda karya Elis  Suryani, Srikandi Néangan Gawé (Srikandi Mencari Kerja) karya  Tiktik Rusyani, Mahakarya Cinta  Rahwana   karya Jéjén Jaélani War,  Surat  ka Citraresmi  karya Didin Tulus, Kacapi Pamikat karya  Éni Setiani, Indigo karya  karya Inda Nugraha Hidayat, Ngabungbang  jeung Sangkuriang karya Arthur S. Nalan dan Gurat-gurit   Ngabuburit karya  Étti R.S.    Sedangkan buku yang  dipertimbangkan  akan  mendapat  Hadiah Samsoedi, ada tdua judul, yaitu Kembang Asih di Pasantrén karya Édiyana Latief dan   Kasambet karya  Ahmad Bakri.

            Setelah dipertimbangkan dengan daria,  ditetapkan ada tiga calon untuk mendapat Hadiah Sastera Rancagé  2015 bahasa Sunda ialah  Kembang-kembang Anten,Dayeuh Kasareupnakeun  kumpulan  fiksi  mini, dan  Lagu Ngajadi kumpulan guguritan.

Kembang-kembang Anten roman karya  Aam Amilia, menyegarkan. Pangarang  sangat  cekatan dalam melukiskan hubungan antara laki-laki dengan wanita, baik suami istri,   maupun yang hanya  sebagai  teman. Pengarang terhitung berani mengemukakan masalah poligami. Nampak tidak kaku. Hanya dalam melukiskan Sutri  sadrah ketika  suaminya  berterus  terang tentang hubungannya dengan  Anten, secara psikologis kurang  meyakinkan.

Dayeuh Kasareupnakeun  karya Nazaruddin Azhar merupakan kumpulan  fiksi mini yang sedang sangat  digemari oléh para pengarang Sunda. Tidak hanya dimuat dalam majalah tetapi juga banyak  yang diterbitkan sendiri  oléh  pengarangnya  berupa buku  kecil  dan tipis.  Beberapa puluh judul mémang berhasil, tapi  sebagian lagi   lebih tepat disebut  gagal.   Sacara  umum fiksi mini Nazaruddin bisa digolongkeun kepada  karya ékspériméntal  yang  rajin mencari bentuk-bentuk  baru yang tepat untuk menyatakan   gagasan  yang khas  dalam bahasa Sunda. Ada yang  berhasil,  tapi banyak  juga  yang belum berhasil.

            Dalam kumpulan guguritan (bentuk  puisi tradisional saperti  macapat  dalam sastera Jawa) berjudul  Lagu Ngajadi yang   memuat 36  buah  karya Dian Héndrayana nampak bahwa penyairnya  sangat  menguasai bentuk dan téma-témanya. Kata-katanya terpilih, benar-benar dipertimbangkan dengan matang agar bentuk guguritan  dengan téma yang  didukungnya benar-benar sesuai, tidak asal jadi.  Sayang  di sana-sini masih terdapat kalimat yang terasa dipaksakan, seperti dalam menempatkan kata “deui  (lagi)” dan “baé  (saja)”  misalnya  dalam kalimah “manggih tapak salira  tos deui lunta”  (Di dinya di Wanayasa, h.  16).  Tapi tidak sampai menurunkan  mutu  imajinya.  Waktu menghadapinya  kita membacanya  dengan “berahi”. Dalam hal ini, bentuk sastera guguritan  yang sudah  tersedia sebagai  warisan  karuhun  oléh  Dian terus  dimamah dikunyah, diberi interprétasi baru, diberi ruh baru, supaya tetap segar dan orisinal.

            Setelah  dibaca dan dipertimbangkan  lagi dengan saksama, maka ditetapkanlah bahwa   buku sastera Sunda yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015 untuk karya  adalah

Lagu Ngajadi

                                    Kumpulan guguritan  Dian Héndrayana

                                    (terbitan KSB Rawayan, Bandung)

            Maka kepada  Dian Héndrayana  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat karya berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

            Sedangkan orang yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015  untuk jasa  adalah

Aam Amalia

                                    Lahir di Bandung, 21 Désémber, 1946

berdasarkan pengabdiannya yang tidak pernah berhenti dalam menumbuhkan dan mengembangkan sastera Sunda baik  dengan  menulis karya  sastera maupun dengan mendidik calon-calon pengarang dalam bahada Sunda.

            Aam Amilia mulai  menulis   cerita péndék yang  dimuat dalam  majalah  Manglé ketika  berumur 16 tahun. Sejak waktu itu sampai sekarang Aam tidak  pernah  berhenti   menulis cerita dalam bahasa Sunda, baik cerita péndék maupun roman.  Di samping itu dia menulis cerita péndék dan roman dalam  bahasa Indonésia. Dia pernah menjadi redaktur dan wartawan majalah  berbahasa Sunda  dan  Indonésia, yaitu  Manglé, Hanjuang, Sipatahoenan, Galura, Kudjang, Koran Sunda,  dan Pikiran Rakyat sampai pensiun).

            Roman dan  kumpulan cerita péndéknya  yang sudah terbit  a.l. Samagaha (1969), Asmara Ngambah Sagara (1970), Lalangsé (1970), Puputon (1979),  Buron (1980),  Kalajengking (1980), Panggung Wayang (1992), Tempat Balabuh (1994), Sekar Kadaton (1994), Suminar (2008), Talaga Malihwarni (2012), dan  Kembang-kembang Anten (2014).

            Sejak  tahun 1970,  Aam tidak putus-putus  “mengasuh” calon pengarang. Caranya menularkan kemampuannya mengarang tidak formal,  bisa di mana saja, termasuk  di rumahnya.   Aam juga ikut membimbing  calon  pengarang di “Caraka Sundanologi” bersama-sama dengan  pengarang lain  seperti  Adang S.,  Éddi D. Iskandar, Duduh Durahman, Hidayat Susanto dan Abdullah Mustappa, di “Durmakangka”, di “HPPM (Himpunan Penulis Pengarang Muda)  Nurani”, dan di “Panglawungan 13” yang berdiri  di Majalah Manglé  atas  inisiatip  Abdullah Mustappa dan   Karno Kartadibrata. Para pangarang  yang  pernah  dibimbing  oléh  Aam antaranya Tatang Sumarsono, Hérmawan Aksan, Yus R. Ismail, Rosyid É. Abby, Usman Supéndi  dan  S. Nataprawira.

            Kepada  Aam Amilia  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat jasa berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2015  untuk sastera Jawa

Seperti tahun-tahun sebelumnya  dalam tahun 2014 juga penerbitan buku karya  sastera dalam  bahasa Jawa didominasi  oléh karya  prosa, baik roman maupun  cerita péndék. Dalam tahun 2014 buku sastera Jawa yang terbit adalah 3 buah roman dan 7 buah kumpulan  cerita péndék, sedangkan kumpulan puisi  hanya  5  judul.

Nalika Rembulan Panglong  karya Tiwiek SA bercerita tentang Warno yang menjadi  penjudi dan penjahat kakap karena pengaruh lingkungannya. Waktu dia merampok tas orang yang  baru mengambil uang dari bank di rumahnya yang besar, tetapi  waktu  dibuka ternyata tas itu  hanya berisi guntingan ketrtas. Hal itu  membuat  si perampok  marah. Dan mau membalas dendam dengan merampok rumah besar itu.  Tapi waktu ia melaksanakan niatnya, ternyata Danardana, siempunya rumah tidak ada, karena ia seorang pengusaha tambak udang. Di rumah hanya ada isteri dan anak gadisnya yang cantik. Ia mau memperkosa  gadis itu, tapi  ibunya  membujuknya agar jangan memperkosa gadisnya, sebagai gantinya ia sendiri  bersedia diperkosa.

            Beberapa bulan kemudian, Warno mendengar bahwa Danardana mengusir isteri dan anak gadisnya, sehingga ia ingin mencari kedua wanita itu, karena dia sangat  terkesan  oléh kerélaan  bu Chamidah (isteri  Danar)  yang bersedia diperkosa  asal anaknya tidak, yang menyebabkan Warno  sadar akan kejahatannya  sendiri. Penyelesaiannya sangat dibuat-buat: Setelah bertemu dengan bu Chamidah, meréka merencanakan menikah, tetapi datang Danar  yang  mengajak rujuk (yang ditolak) dan Warmo ditangkap polisi  karena ketahuan menyimpan  senjata  api  tanpa  izin.

            Roman Purnama Kingkin karya Soenarjata  Soemardjo, melukiskan kehidupan anak muda yang saling kasihi. Arini mengasihi  Prono dengan tulus, tapi Prono menaruh  hati juga kepada Asih, saudaranya yang pernah tinggal  serumah. Hal itu baru diketahui Arini setelah meréka menikah. Tapi Arini tidak mau menghancurkan cinta Asih hanya karena dia.  Sedangkan Asih sudah patah hati  karena ditinggalkan  oléh Andik yang belakangan  menikah dengan  Asri yang ternyata  saudara kembar  Asih.

            Kumpulan  cerita péndék Prasetyaning Ati karya Tiwiek SA  kebanyakan melukiskan  kehidupan guru yang melarat namun tulus dan mencintai lingkungan dan pekerjaannya. Mawar Abang kumpulan cerita péndék Ariesta Widya yang pernah mengajar di berbagai  tempat di luar Jawa seperti   Tual (Maluku Tenggara) dan kota Manado  (Sulawesi Utara), sehingga  dalam  karyanya  terdapat panorama yang  bervariasi.  Ceritanya bernuansa terlalu lembut, tidak pernah ada konflik  terbuka, sehingga alurnya terasa datar.

            Nono  Warnono dalam  Malaikat Jubah Putih  yang terdiri dari 23  cerita melukiskan  pengalamannya waktu menunaikan ibadah haji yang sepanjang jalan mengalami  berbagai hambatan, tapi selalu dapat diatasi  karena adanya  penolong tidak dikenal  yang selalu memakai jubah putih.

Aku  Dasamuka lan Sengkuni  karya Papal Poerwanto yang memuat 14  buah cerita,  semuanya digarap secara khusus, yaitu  menggabungkan duinia nyata sebagai  latar dasarnya, dengan cerita  dari dunia fiksi yang  berasal dari cerita wayang atau ketoprak; atau sebaliknya: latar  dasar dunia fiksi dilanjutkan  dengan kehidupan nyata. Cerita dalam buku ini banyak yang menarik karena  digarap  dengan  latar berbagai variasi, termasuk masa réformasi. Gaya berceritanya juga  unik, sering sinis, misalnya  ketika mengeritik  keadaan sosial pada masa réformasi yang diwarnai dengan pelanggaran hak-hak asasi manusa  seperti penjarahan, perkosaan dan pembunuhan. Sayang  sekali kurang didukung  oléh penguasaan bahasa yang baik, termasuk penggunaan éjaan.

            Kumpulan cerita Nyolong Pethek karya  Ary   Nurdiana, memuat 15 cerita. Ungkapan “nyolong pethek” dalam bahasa Jawa artinya  suatu kejadian  yang  tidak terduga   sama sekali. Ary  Nurdiana  dalam cerita-ceritanya   dengan keyakinannya bahwa  tidak semua  yang kita rencanakan dengan baik tidak selalu berbuah  sesuai dengan  yang diharapkan, bahkan mungkin yang terjadi adalah sebaliknya.

            Tiga  kumpulan guritan (puisi) yang terbit tahun lalu ialah Ngeluk Duwung Nggelung Gunung  karya R. Djoko Prakosa, Prasasti karya  Éko Wahyudi dan Sepincuk Rembulan karya Triman  Laksono. Djoko Prakosa yang berlatarkan seni tari,  banyak memanfaatkan éfék bunyi dalam  karyanya. Misalnya dalam puisi “Dakkekep  Citramu” banyak digunakan kombinasi bunyi –yu dan dilanjutkan dengan kombinasi  –yu dan –tung di akhir kata (layu,  klayu, candhik ayu/ dakkekepi ing gawanganing langit / janji saresmi suci /  laé …… sesambat bapa biyung  gawangan  putung / driji-driji kélangan petung!). Kombinasi bunyi itu menimbulkan  suasana haru dan kesia-siaan. Secara keseluruhan banyak puisi dalam kumpulan ini kehilangan totalitas karena penyair terlalu  memfokuskan kréativitasnya pada aspék keindahan  bunyi, kurang memperhatikan aspék puisi   lainnya.

            Karya Éko Wahyudi  Prasasti  memuat  54  guritan. Penyairnya  guru sehingga banyak témanya tentang pendidikan  dalam  bermasarakat,  dan  métafora yang digunakannya tidak ada yang gelap.

Sepincuk  Rembulan karya  Triman Laksana, memuat 117 guritan. Dibagi jadi tiga kelompok, “Jagad Cilik”, “Jagad Gedhé” dan “Jaman”. Kelompok pertama memuat  guritan  yang témanya masalah-masalah hakiki manusia; kelompok kedua memuat guritan-guritan yang témanya  tentang  masalah  kehidupan antar-manusia di dunia yang luas; sedang kelompok ketiga memuat guritan-guritan yang  bertéma  yang  berkaitan dengan  perubahan. Dalam  guritan-guritannya penyair  cenderung menggunakan bahasa yang lugu, menyebabkan  terasa mengalir dan imaji-imaji visual yang mendukung guritan dalam ketiga  kelompok  itu  mudah dipahami.  Misalnya   guritan “Sepincuk Rembulan” (Jagad Cilik”) yang  digunakan   sebagai  judul kumpulan ini,   menyampaikan masalah  kesenjangan sosial  dalam masarakat  melalui pengamén kecil yang mengamén di  depan gedung DPR  yang megah.  “Mbokmenawa mung  turahan  rasa  / gedong  gedhé tan bisa disanak” (mungkin hanya  sisa  perasaan /  gedung  megah tak mungkin  disapa”. Orang kecil yang  sehari-harinya lapar dan tidur di beranda  langit memimpikan meraih bulan dilukiskannya “tangané ngranggéh rembulan / terus  dipincuk kertas koran / sing kebak  warta korupsi para pangarsa / arep dienggo sangu  turu / nyapih kaluwén kang  dawal …”  (tangannya meraih  bulan / terus dipincuk  kertas  koran / yang penuh berita korupsi  para pemimpin / untuk bekal  tidur / menahan rasa lapar yang panjang“.  Dalam kelompok “Jagad Gedhé” ada sejumalh guritan yang menarik, antaranya “Mung Duwé Lambé” (Hanya punya Mulut) ,  “Tangis”, “Sanajan”  (Meskipun), dan “Kajiret Tali” (Terikat tali).  Guritan péndék  “Mung  Duwé Lambé” sangat réligius dengan kepasrahan masarakat kecil  ketika tak  berdaya  mengubah  nasib. Karena  meréka hanya  mempunyai  mulut untuk  berdo’a.

            Setelah semua buku terbitan tahun 2014     dipertimbangkan dengan seksama maka ditetapkan bahwa Hadiah  Rancagé  tahun  2015  untuk sastera Jawa  jenis karya diberikan kepada

Sepincuk Rembulan

                                    Kumpulan  Guritan

                                    karya Triman Laksono  (lahir 7 Juni, 1961)

             Maka kepada  Triman  Laksana  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat karya berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Sedangkan orang yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015  untuk jasa  adalah

Yulitin  Sungkowati

                                    Lahir  tgl. 15 Juli 1970 di Purbalingga  Jawa Tengah

            Yulitin Sungkowati  adalah peneliti sastera Indonésia  dan Jawa yang bekerja di  Balai Bahasa   provinsi Jawa Timur.   Dia lulusan  S-1 dan S-2  Fakultas Ilmu Budaya UGM. Karya penelitiannya dimuat dalam jurnal-jurnal penelitian seperti Atavisme  (Balai Bahasa Jawa Timur), Métasastera (BB Jawa Barat), Salinka (BB Sumatra), Widyaparwa (BB DI Yogyakarta), Kandai (BB Sulawesi Tenggara), Humaniora (FIB UGM), dll. Sedangkan hasil  penelitiannya yang dibukukan al.  Poténsi  Cerita Rakyat Déwi Rengganis (2008), Sastera dan Kritik Sosial (2009), Organisasi  Pengarang  dalam Dunia  Sastera Jawa (2009), Organisasi Pengarang di Surabaya (2010). Di samping itu dia juga menerbitkan buku ilmiah populér, misalnya Perempuan Seni Tradisi dan Kaum Santri dalam novel Kerudung Santét Gandrung,  Kecenderungan Perempuan Pengarang Indonésia tahun 1998—2003 dan sebagainya.

            Yulitin  juga sering memberikan ceramah tentang  sastera Indonésia dan sastera Jawa di berbagai kesempatan   di  berbagai tempat. Sebagai fasilitator dia pun terjun langsung sesuai dengan keahliannya, misalnya pada Béngkél Sastera Indonésia untuk SMA Kabupatén Sidoardjo, Lokakarya éjaan Bahasa Madura, Béngkél Sastera Jawa Guru SMP Kota  Mojokerto, dll. Ia juga aktif dalam kegiatan sastera Jawa yang diselenggarakan oléh Paguyuban Pengarang Sastera Jawa Surabaya (PPSJS).

            Kepada  Yulitin  Sungkowati   akan disampaikan Hadiah  Rancagé  sastera Jawa   tahun  2015 buat jasa berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2015  untuk sastera Bali

Tahun 2014 yl. buku karya sastera modéren dalam bahasa Bali  terbit 12 judul, turun 5 judul dari tahun  sebelumnya. Ke-12 judul buku itu buahtangan 10 orang pengarang terdiri  dari  2 roman, 1 prosa liris, 4 kumpulan sajak dan 5 kumpulan cerita péndék. Ada seorang penulis yang menerbitkan dua roman, yaitu I Madé Sugianto dan seorang lagi menerbitkan dua buah kumpulan sajak, yaitu I Ketut  Aryawan Kenceng. Yang delapan orang lagi  masing-masing  menerbitkan satu judul buku.

            Meskipun  judul buku yang terbit  tahun  ini lebih  sedikit dari tahun  sebelumnya, namun kehidupan sastera  Bali tahun 2014   tetap semarak karena adanya Bali  Orti (supelmén Bali Post Minggu) dan  rubrik Mediaswari (Pos Bali edisi minggu) yang selalu memuat  puisi dan cerita péndék dalam bahasa Bali.  Dan ternyata sebagian besar  karya  yang  terbit tahun 2014  adalah  buah tangan  penulis   muda,  termasuk yang  lahir  tahun 1994.

            Roman yang terbit  tahun 2014  ada dua judul, yaiutu  Sentana Cucu Marep (Anak Cucu Utama) dan Ratna Tribanowati, keduanya karya Madé  Sugianto yang pernah dua kali  mendapat Hadiah Rancagé, tahun 2012 untuk jasa dan tahun 2013 untuk karya. Sentana Cucu Marep merupakan  lanjutan  dari roman sebelumnya, Sentana, yang berpusat pada  masalah kasta  dan keturunan garis laki-laki.  Masarakat patrilinial Bali  menghargai anak laki-laki melebihi anak perempuan karena anak  laki-lakilah yang  akan  meneruskan garis keluarga. Konflik dalam roman ini terjadi  karena

ada cinta antara dua kasta yang  berbéda. Seorang laki-laki dari kasta rendah jatuh cinta kepada wanita berkasta tinggi (brahmana) yang juga mencintainya.  Cerita ini mengambil solusi bijaksana dengan memutus cinta terbelenggu kasta  melalui pernikahan rékayasa unuk menyelamatkan anak yang akan lahir dengan status brahmana yang akan menjadi  penerus  keluarga. Nampaknya roman ini  masih  akan berlanjut.

            Ratna  Tribanowati  mengisahkan seorang perawan tua (daha tua) yang selalu galau karena tak punya  pasangan  hidup. Masarakat mengucilkannya karena tahu  bahwa ibunya (Mén Gorio) adalah wanita yang menguasai  léak (black magic). Kisah ini mendapat inspirasi dari cerita Calonarang. Akhir cerita menggambarkan perang terjadi antara ibunda Ratna  yang menjadi rangda dengan tokoh désa yang menjadi  barong. Perang antara rangda dengan barong yang sering dipertunjukkan untuk  wisatawan  dikenal sebagai  pertarungan antara kejahatan dengan kebenaran yang diakhiri  dengan punahnya ilmu hitam. Sama dengan roman-roman Sugianto sebelumnya, Ratna Tribanowati ditulis dengan bahasa yang jernih, jelas dan cerita mengalir dengan  cepat karena konflik kurang kompléks.

Blanjong (nama tempat di daérah Sanur) adalah judul karya  Ni Madé Ari Dwijayanthi, memuat 35 judul prosa-liris. Semuanya mengungkapkan réfléksi diri atas berbagai persoalan dan fénoména kehidupan seperti soal waktu, tempat dan harta yang dalam  bahasa Bali  diungkap dalam kata  galah,  genah, dan gelah  yang memiliki persamaan bunyi suku akhir. Réfléksi penggalian makna kahidupan dan nilai-nilai dalam prosa-liris ini diungkapkan  dengan   berbagai cara  antara lain  dialog dengan diri sendiri atau introspéksi dan dengan orang lain, ékstropéksi.

            Keempat kumpulan sajak  yang terbit tahun 2014 adalah Batan Moning (nama tempat) karya IDK Raka Kusuma, Beruk  (Tempurung)  dan  Bikul (Tikus) keduanya karya I Ketut Aryawan Kenceng, dan Mlajah  (Belajar) karya Madé Suar Timuhun.  Persamaan karakteristik dalam sajak  yang dimuat di dalam keempat kumpulan itu terletak  pada kuatnya irama dan pola persajakan pada akhir baris  seperti syair.

Kesadaran penyair untuk membuat bunyi akhir sama sehingga terasa indah terlihat  sekali  pada karya-–karya I Ketut  Aryawan Kenceng. Dia mencoba mengadopsi  pola haiku  (Jepang)        ke dalam bahasa Bali. Dalam kumpulan Beruk dan Bikul yang masing-masing memuat 55  haiku, penyairnya tak hanya tertib memenuhi  pola haiku (tiga baris dengan jumlah  suku  kata seluruhnya 17 dengan rincian tiap baris 5, 7, 5 suku kata ), melainkan juga dengan membuat tiap baris berkahir dengan suku kata yang sama. Contoh:

  “Purnama”

Langité kedas

Jagaté mapayas

Kenehé ias 

 

artinya  “langit bersih / alam berhias / hati gembira”.  Dengan bentuk  haiku yang singkat, I Ketut Aryawan  Kenceng berhasil mengungkapkan persoalan sosial yag menjadi sumber kepedulian publik seperti masalah réklamasi,  perubahan téknologi,  dan korupsi.

            Kelima kumpulan cerita péndék yang terbit tahun 2014 adalah  Lawar Goak (Lawar Gagak) oléh  I Ketut Rida, Belog (Bodoh) oléh  Tudékamatra, Yéning  Bénjang Tiang Dados Presidén (Kalau  nanti saya jadi   Presidén)  oléh I Putu Supartika, Paruman Betara (Rapat para Déwa)  oléh  I Wayan Sadha dan Ngurug Pasih (Menimbun Laut) oléh I Gedé Putra Ariawan.

Lawar Goak berisi 16 cerita yang berlatar kehidupan perdésaan yang kena pengaruh kehidupan kota namun kepercayaan terhadap nilai-nilai magis  masih  kuat. Cerita “Lawar Goak” misalnya, melukiskan usaha tak  mengenal putus asa seorang désa sampai akhirnya dia bébas  dari   kemiskinan. Dalam usahanya mencari  pekerjaan baru, dia  harus  membuat  makanan berbahan  baku bayi gagak dan membawanya keliling désa  tengah malam, penuh suasana mistis. Kisah mistis  juga  terdapat dalam cerita “Umah Tawah” (Rumah Anéh). Selain téma kerja keras dan mistis, dalam ceritanya  I Ketut Rida menyajikan téma generasi muda perlu belajar di  sekolah, dan menerapkan pengetahuan dalam perilaku  baik di masyarakat untuk kebaikan  bersama. Nasehat-naséhat itu disampaikan  dalam  alur  cerita  dengan baik,  sehingga pembaca tidak merasa  digurui. I Ketut Rida pensiunan guru dan tinggal di  pedésaan di Bali Timur, tak  menghérankan kalau ceritanya  penuh naséhat dan mendidik.

Belog memuat 15  cerita sebagian merupakan kisah remaja yang lagi kasmaran, baik yang hidup di désa maupun di kota. Penulisnya, Tudékamatra,  rélatif  masih  muda, kelahiran tahun 1990, sehingga wajar  kalau dia masih dekat dengan dunia  remaja. Bahasa yang dia gunakan cukup baik, namun ceritanya kebanyakan sederhana seperti cerita “Belog” yang melukiskan kekecéwaan seorang ibu yang mempunyai anak bodoh.

            Penulis buku Yéning Bénjang Tiang Dados Presidén I  Putu Supartika lahir tahun 1994 (jadi 2014 baru 20 tahun umurnya), maka ceritanya  penuh hayalan atau cita-cita,  termasuk ingin  jadi  persidén atau pergi ke luar negeri. Téma lain adalah romantika remaja seperti “Rindu” cerita tentang seorang  laki-laki yang menjadi sangat murung karena  ditinggalkan  oléh  pacarnya yang  bekerja di  luar negeri. Karya-karya Supartika menunjukkan pemakaian bahasa yang lancar, sederhana, dan lugas  serta alur cerita yang  menarik. Sosok perempuan dalam cerita-ceritanya lebih kuat dan berpikiran luas daripada laki-laki, gambaran yang sebaliknya dari mitos dalam  masyarakat yang memandang perempuan  sebagai mahluk  lemah.

Paruman Betara karya  I Wayan Sadha memuat 24 cerita yang sebagian besar  merupakan skétsa masyarakat, banyak berisi sindiran terhadap  kehidupan sosial di Bali seperti masalah pariwisata dan térorisme, narkoba, serta  ihwal masyatrakat modéren yang percaya pada dukun. Dengan gaya  bahasa yang jenaka, Wayan  Sadha menyampaikan sindirannya melalui cerita.

Ngurug Putih memuat 15 cerita karya I Gedé Putra Ariawan,  yang sehari-hari menjadi guru bahasa  dan sastera Indonésia di SMA. Dia banyak memanfaatkan  ungkapan dalam kearifan lokal Bali seperti “luh luwih” (wanita utama), “mati suba ubadné” (mati saja obatnya), sebuah ungkapan  yang  paradoksal  karena “obat”  mestinya  membuat sembuh bukan mati.  Penggunaan ungkapan-ungkapan demikian tidak saja  membuat  bahasa cerita énak dibaca dan menyentuh  émosi  tetapi juga membuat  makna dan ungkapan kearifan lokal  Bali terus  terpakai dan diperkenalkan kepada pembaca. Cerita dalam buku ini merupakan satire atas  gejala-gejala sosial dalam pembangunan Bali yang seperti sudah di luar  kontrol. Cerita “Ngurug Pasih” misalnya menggambarkan  penjualan habis  tanah-tanah di Bali untuk villa dan dikuasai orang asing, sedangkan cerita “Car Free Night” menggambakan kehidupn hédonistik  dan hura-hura di daérah  perkotaan. Kedua cerita  itu dikombinasikan dengan   baik dengan isu  black magic, kepercayaan yang juga menghiasi cerita-cerita yang lain di sini dan dalam  karyanya  yang  lain.

Maka  setelah semua buku terbitan tahun 2014     dipertimbangkan dengan seksama maka ditetapkan bahwa pemenang Hadiah  Rancagé  tahun  2015  untuk sastera Bali  jenis karya diberikan kepada

Ngurug Pasih

                        Kumpulan cerita péndék

karya  I Gedé Putra  Ariawan

(terbitan Pustaka Éksprési)

            Kepada  I Gedé  Putra Ariawan  akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang I(Rp. 5 juta).

            Sedangkan  Hadiah Sastera Rancagé tahun 2015 untuk  jasa dalam sastera  Bali akan  dihaturkan  kepada

                                    I  Nyoman Adiputra

                                    lahir di Kabupatén  Bangli, 11 Désémber 1947.

            I  Nyoman Adiputra adalah  Profésor Doktor Dokter  Universitas Udayana yang menciptakan  banyak  karya sastera  Bali  tradisional dan sastera Bali modéren dalam 20 tahun terakhir.  Sejak  1993  dia menciptakan sembilan karya jenis kakawin yaitu puisi Bali tradisional berbasis tembang menggunakan  bahasa Jawa Kuno, al.  Kakawin Udayana Mahawidya (Kakawin Universitas Udayana sebagai Sumber  Pengetahuan, 1993), Kakawin Bali Sabho Lango (Kakawin  Pésta  Kesenian Bali, 1997) dan Kakawin Candra Berawa (2015). Adiputra juga menciptakan puisi tradisional  Bali yang disebut sekar alit  yang  menggunakan bahasa Bali sehari-hari, judulnya  Gaguritan   PKB (Pésta Kesenian Bali).

            Yang menulis gaguritan, banyak, tapi yang  menulis kakawin sangat langka. Adiputra berhasil  menulis  kakawin antara lain karena sejak   menjadi murid SD menekuni dunia kakawin dan aktif melantunkan wirama (tembang Jawa Kuno) dalam kehidupan sehari-hari di masarakat di sela-sela  kagiatan  profesionalnya  sebagai  dosén dan prakték  dokter.

            Karya-karya Prof. Adiputra mendapat  sambutan  positif dari masyarakat dan   dari  dunia  universitas. Sudah ada  4  orang mahasiswa  yang menjadikan karya Prof. Adiputra sebagai bahan skripsi di Jurusan Jawa Kuno Universitas Udayana. Hal itu menunjukkan bahwa selain memperkaya khazanah sastera Bali, juga berguna dalam dunia pendidikan  sastera Bali.

            Selain menciptakan karya sastera tradisional, Adiputra juga menciptakan puisi Bali modéren. Dia  menulis  puisi  Bali modéren sejak tahun  1980, tapi baru tahun 2004 karyanya dikumpulkan dan  diterbitkan, antaranya Boréh  Cuka (2004), Pénjor (2005), Prelaya (Kehancuran, 2005), Wong Bali (2006), Basa Bali (2007).

            Kepada  I Gedé  Putra Ariawan  akan dihaturkan Hadiah Sastera Rancagé  tahun 2015  berupa piagam dan uang Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera ”Rancagé”  2015 untuk sastera Batak

Ada lima judul  buku sastera Batak  terbitan  2012 – 2014 yang harus dipertimbangkan  mana yang  patut  mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” yang  pertama  kalinya, walaupun  kelima  buku itu  karya seorang  pengarang,  ialah Saut Poltak  Tambunan (SPT) yang punya pengalaman sebagai  pengarang dalam  bahasa Indonésia  lebih  dari  40 tahun sebelum menulis dalam bahasa bunya. Menurut  tahun terbitnya, kelima  buku itu  ialah  1. Mangongkal  Holi (Menggali Tulang, kumpulan cerita péndék, Maret 2012), 2. Mandera Na Metmet  (Bendéra Kecil, roman dua bahasa,  April  2013),  3. Si Tumoing Manggorga Ari Si Sogot (Si Tumoing Mengukir Hari Ésok, Méi  2013),  4. Masih, Meski Bukan Yang Dulu, kumpulan  sajak  yang memuat juga  sajak dalam bahasa Batak,  Agustus  2013), dan Si Tumoing: Pasiding Holang Padimpos  Holong (Si Tumoing :   Perpéndék Jarak,  Teguhkan  Kasih,  Mei 2014).

            Urut-urutan terbit kelima buku itu  penting, karena kita akan melihat kian

meningkatnya kemampuan pengarang dalam  menggunakan  bahasa  Bataknya.  Dalam buku yang  awal, bahasa Bataknya  merupakan  terjemahan dari  bahasa  Indonésia. Kemudian  banyak kata   bahasa Indonésia yang terselip  di dalam  kalimat. Banyak kata-kata bahasa Batak yang salah tempat  atau  keliru  arti dan keliru tulis.

Dalam buku  keempat, Masih, Meski Bukan yang Dulu, yang memuat  sajak dalam  dua bahasa, Indonésia dan Batak, sajak Indonésia  jauh  lebih banyak (85 buah) daripada sajak  dalam bahasa Batak (hanya  8 buah). Untung sajak-sajak  bahasa Batak  jauh  lebih  baik. Pilihan kata-katanya wiwasa (spontan), sedikit  pun tidak terasa  ada pemaksaan, dan métaforanya  sarat makna. Iramanya terjaga sehingga  mustahil rasanya  menggésér urutan kata  apalagi  mengurangi  atau  menambahnya. Hal itu jelas  terasa bila kita bandingkan beberapa larik pertama saja antara sajak berbahasa  Batak Toba “Bungkas Ma Ho” dengan  padanannya dalam bahasa Indonésia, “Jangan Usik Kami di Tanah Sendiri”. Untuk perbandingan ini pembaca tidak perlu tahu bahasa Batak. Baca saja dan perbédaan mutunya akan langsung terasa:

Bungkas  Ma Ho         Jangan Usik Kami di Tanah Sendiri

 

Jamot marudungo-dungo                                Kami lelah di sini berjaga

Ngotngot patulangit tonggo-tonggo                berdarah-darah di tepi luka kian menganga

Pangiar anggukhangguk  tu désa na ualu      jerit  perempuan  langitkan andung

Ai  nunga  barsibalik  uhum sega gadugadu    wajah bumi kami berubah

Seperti  yang diakui oléh SPT  sendiri dalam bukunya  yang  pertama , baru

setelah hidup sebagai  pengarang  (dalam bahasa Indonésia)  lebih dari 40  tahun ia mempunyai  keinginan menulis  dalam bahasa ibunya,  bahasa  Batak Toba. Sedangkan generasi  muda Batak semakin kurang  berminat berbahasa ibunya. Dia tahu bahwa ada pengarang dari  daérah  lain  yang  menulis dalam bahasa ibunya.  Mengapa dia tidak?  Maka dia bermaksud  akan menterjemahkan cerita-cerita yang ditulisnya  dalam  bahasa Indonésia  ke dalam  bahasa ibunya.  Ternyata menterjemahkan cerita dari  bahasa Indonésia ke dalam  bahasa  Batak  itu tidak mudah,  sehingga ia pun  langsung  menulis  dalam  bahasa Batak. Meskipun pada awalnya susah, sehingga  banyak  kata-kata Indonésia  yang digunakannya.  Tapi  dia berusaha agar  lebih   menguasai  bahasa ibunya, dengan  antara  lain mempergunakan ungkapan-ungkapan  tradisional  yang merupakan kearifan lokal  daérahnya.

            Kelima buku sastera berbahasa Batak karya Saut Poltak Tambunan  patutlah dinilai menarik dan penting.  Menarik, karena ditulis dengan rancangan jalan cerita (plot)  berdaya tegang cukup tinggi; gaya penulisannya cukup jernih dengan kalimat sederhana dan  péndék-péndék.  Penting, pertama karena kelima buku ini berhasil menghadirkan sejumlah besar  kosakata yang mungkin belum  pernah didengar apalagi dipakai  oléh rata-rata penutur bahasa Batak Toba. Kedua, kelima buku secara keseluruhan berisi pokok-pokok persoalan yang mengancam, daya hidup masyarakat  penutur bahasa tersebut déwasa ini, dan yang penyelesaiannya sangat sulit.

            Pokok-pokok persoalan itu boléhlah  dirumuskan sbb: (1) Sejumlah tradisi;  seperti menggali  rangka tulang orangtua nénék moyang mungkin pengorbanan sia-sia; (2) Brain-drain habis-habisan dari désa-désa; (3) Kurangnya perhatian  masyaralat désa terhadap orang-orang lemah, seperti  yang  miskin dan cacat; (4) Besarnya pamrih perantau  suksés  dalam urusan kampung  halaman; (5) Hancurnya éko-sistim pedésaan mengikis kepekaan masyarakat terhadap  kehidupan; (6) Dalam hal ambisi orangtua ternyata  jauh lebih ganas  daripada anak-anak  meréka; (7) Kekuasaan, terlebih  dalam perang, sekalipun kecil-kecilan, bisa membuat pengorbanan paling  murni jadi sia-sia, utamanya pengorbanan ibu dan anak; (8) Kehidupan masyarakat  désa yang tabah dan mandiri sirna hanya dalam satu generasi; (9) Betapa kelirunya  pilih bulu yang  meminggirkan  anak perempuan  dan mengedepankan anak lelaki; dan (10) Kejamnya patriarki.

     Sepuluh pokok persoalan itu tergarap cukup baik dalam 10 cerpén  yang dimuat dalam buku ke-1 Mangongkal Holi. Itu kalau dibaca oléh bahasa Batak Tiba-nya  pas-pasan, tapi akan sangat terasa mengganggu  bagi  pembaca yang  kosa-kata basa Batak  Tobanya  di atas rata-rata.

Demikianlah 10 cerpén itu dapat dianggap mewakili ragam pokok persoalan tersebut.  Pokok persoalan ke-7 misalnya  digarap lebih rinci dalam buku  ke-2 (Mandera na Mémét, roman péndék tentang Perang Kemerdékaan yang  diceritakan oléh  seorang kakék kepada cucu-cucunya.

Yang merupakan  karya  sastera  yang utama dari  kelima karya SPT adalah karya

ke-3  dan karya ke-5, yang merupakan roman yang  bersambung, walaupun  pada bagian

akhir   terjadi pergantian tokoh utama, namun  témanya sama.

               Yang  sangat menonjol  pada akhir roman itu adalah betapa  hébatnya

 cengkeraman kekuatan tua yang sudah lama  mengendap, yaitu  adat  dan tradisi.

Tokoh utama pun, Tumoing sampai tergusur dari kedudukannya  sebagai tokoh  utama,

digantikan oléh seorang yang jauh lebih  tua. Marolop alias Ama ni  Mollling, pamannya,

yang lebih penting bagi adat dan tradisi. Hasrat Tumoing  untuk  mengukir hari  ésok

hanya sampai pada peran  tak sadar mengungkap rahasia besar pamannya yang sudah

lama terpendam. Imbalannya  cuma jadi pegawai  di perkebunan sawit milik  sepupunya

Bayu Langit bersama dengan gadis bekas pegawai  pramuniaga  toko  kecantikan  yang

lantas  jadi isterinya.

Namun jangan kira Marolop pendukung kekuatan lama yang bernama adat dan

tradisi. Sebaliknya terhadap adat dan tradisi itu  dia malah  pemberontak yang sangat radikal.   Dia  satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya sehingga dirinya berlipat-lipat  lebih bernilai di hadapan adat  dan tradisi . Semula dia calon lulusan perguruan tinggi paling bergéngsi, yang membuat dirinya yang sudah berlipat-lipat lebih bernilai  itu  bisa lebih  berlipat-lipat  lagi. Mendadak  semua itu dibuangnya  demi mengenang perempuan  kekasihnya yang ternyata  mau juga kawin dengan pria pilihan ayahnya. Marolop memilih hidup sendiri di pinggir hutan bersama seékor anjing.

Empat puluh tahun lamanya Marolop hidup seperti itu, pasrah terhadap segala,  sama sekali tanpa cita-cita.  Mendadak rahasianya terungkap. Ternyata kekasihnya melahirkan anaknya. Yah, anak itu anak Marolop, bukan anak suami kekasihnya. Mendadak nilai diri Marolop menjulang kembali di hadapan adat dan tradisi sebagaimana tampak pada ratapan  haru  adik perempuannya, ibu Tumoing. Kendati  semula gagap menghadapi peristiwa itu, Marolop akhirnya menerima  dirinya yang tiba-tiba menjulang nilainya itu.  Dia terima Bayu Langit, anaknya. Dia terima ibu Bayu Langit, Nurita yang suaminya  sudah meninggal, sebagai isterinya.  Dia terima  anak-anak tirinya.

Tidak  hanya  itu. Penerimaan tersebut dilakukan dengan upacara adat sepenuhnya,  tentu  tidak  hanya oléh Marolop  tapi juga oléh kekasihnya dan semua anak-cucu kekasihnya.  Malah kekasihnya itu paling bersemangat  dengan  réla  menanggung  segala biaya. Hanya  saja masyarakat  asal Marolop  sekalian saja mencengkeram  adat  dan tradisi kekasihnya, Nurita. Yah sungguh hébat cengkeraman kekuatan adat dan tradisi yang  sudah  lama mengendap itu!

Maka  Hadiah Rancagé  buat  sastera Batak Toba  tahun  2015  untuk karya adalah

Si Tumoing : Manggorga Ari Sogot  dan

Si  Tumoing : Pasiding Holang Padimpos Holong

                                    Karya  Saut  Poltak Tambunan

                                    Terbitan7 Selasar Pena Talenta, Jakarta.

Kepada   Saut  Poltak Tambunan  akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang  (Rp. 5 juta).

Sedangkan  Hadiah Sastera Rancagé tahun 2015 untuk  jasa dalam sastera  Batak akan  dihaturkan  kepada

Leonardus  Egidius Joosten

            Usia 72  tahun, lahir di Nuenen, Gerwen en Nederwetten

                        Menjadi WNI tahun 1994

            Sejak  usia 29 tahun dia  bekerja sebagai imam  Katolik  di berbagai daérah di Sumatera Utara, seperti Tapanuli Utara dan Karo, sambil  bekerja untuk memelihara dan memajukan kebudayaan setempat pada umumnya dan sastera daérah Batak Toba pada khususnya.   Karya-karyanya yang sudah terbit dalam bidang tersebut a.l.  Samosir : The Old  Batak Society (1992), Samosir Selayang Pandang (1993), De Oud Batakse Samenleving (1996), Samosir: Silsilah Batak (1996),  Kamus Batak Toba-Indonésia  (2001), terjemahan Toba-Bataks—Nederlands Woordenbook karya Johannes Warneck yang aslinya  Toba Batak – Deutches Wörterbuch (1996—1997). Selain itu dia mendirikan  sejumlah musium  kebudayaan local seperti di Brastagi  (Karo) dan  Pangururan (Samosir).

Kepada  Leonardus Egidius Joosten   akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang  (Rp. 5 juta).

                                                             *

Hadiah “Samsoedi” 2015 untuk Bacaan Anak-anak berbahasa Sunda

Ada dua buku bacaan kanak-kanak yang tetbit tahun 2014, yaitu Nyi Sarikingkin  oléh T.B. Djajadilaga yang merupakan cétak ulang dan Kasambet oléh Ahmad Bakri yang merupakan  kumpulan  cerita   tentang  kehidupan anak-anak.

            Kasambet menceritakan kehidupan Jang Udin, anak jurutulis désa dengan kawan-kawannya. Secara tidak langsuing pengarang memberikan pelajaran dan bimbingan   bagaimana hidup  dalam masarakat yang baik. Bagaimana caranya agar rukun dengan kawan-kawan sepermainan, hormat kepada orang tua atau orang yang  lebih  tua, dan mengasihi  orang yang hidup berkekurangan atau yang lebih muda. Meskipun maksudnya  mendidik, namun  cerita-cerita dalam Kasambet mengandung  nilai sastera. Jalan ceruitanya membangunkan imaji pembaca karena watak setiap tokoh didukung oléh dialog yang hidup, yang  merupakan salah satu  kekuatan pengarang Ahmad Bakri.

            Dengan demikian  yang ditetapkan sebagai pemenang Hadiah  ”Samsoedi” tahun 2015 adalah

Kasambet

                                    Karya  Ahmad Bakri

                                    (terbitan Kiblat Buku Utama)

            Kepada ahli waris Ahmad Bakri akan dihaturkan Hadiah “Samsoedi” tahun  2015 berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

                                                          *

 Pabélan, 31 Januari, 2015

Yayasan Kebudayaan Rancagé

Ajip Rosidi

Ketua  Déwan Pembina

 [1] Setelah selesai menulis Keputusan ini, saya membalik-balik brosur Hadiah “Rancagé”  tahun 2012 dan membaca bahwa saya berjanji kalau ada buku dalam kedua basasa itu terbit   pada tahun 2013 maka Hadiah “Rancagé”  akan dibeirkan kepada pengarang  yang menulis dan menerbitkan buku  dalam kedua bahasa itu. Kami di Yayasan Rancage  telah lalai  terhadap janji itu sehingga pada  tahun  lalu  (2014),  kami tidak memenuhi janji tersebut. Tahun ini kami  memberikan Hadiah Rancagé  buat sastera Batak, insya Allah tahun depan kami akan memberikan  Hadiah “Rancagé”  buat sastera Banjar kalau dalam tahun 2015 ini ada buku baru terbit dalam  bahasa  tersebut.

Dian Hendrayana Raih Hadiah Sastra Rancage 2015

Translate »