As-Syifa Boarding School Subang adalah sekolah Islam berasrama dengan pola pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta mengintegrasikan akhlak mulia melalui program living value. Pembentukan karakter Islam menjadi perhatian khusus. Tidak heran jika banyak orang tua siswa, baik dari dalam maupun luar negeri, tertarik untuk menyekolahkan putra/putrinya di sekolah tersebut. Kuota siswa baru setiap tahun ajaran hanya 800 orang, sementara jumlah peminat berkisar 3.000 orang, 20-30 orang diantaranya pendaftar dari luar negeri. Ada dua tipe siswa asing yang diterima di As-Syifa Boarding School yaitu, siswa berkewarganegaraan asing (Thailand, Malaysia) dan siswa warga negara Indonesia (WNI) yang lahir atau sudah lama tinggal di luar negeri (Qatar, Amerika, Jepang, Cina, Australia). Kedua tipe siswa asing ini pada umumnya belum menguasai bahasa Indonesia. Padahal dalam proses belajar mengajar di kelas, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

Sehubungan dengan hal itu, Ust. Feri Rustandi, S.Pd. beserta rombongan yang terdiri dari 5 orang guru dan seorang siswa (Sani dari Thailand) berkunjung ke FPBS UPI untuk berdikusi tentang penyelenggaraan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) (31/03/2017). Dekan FPBS bersama Dr. Yulianeta, M.Pd. (Sekretaris Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd. dan KBTU FPBS menyambut dan menerima rombongan di ruang rapat pimpinan lantai 2.

“Kami datang ke FPBS ini ingin berkonsultasi tentang pembelajaran BIPA. Kami saat ini telah menerima siswa asing tapi masih dengan layanan seadanya. Kesulitan berbahasa Indonesia di kalangan siswa asing menjadi hambatan yang mendesak yang harus segera diselesaikan,” ujar Ustad Feri.

Lebih lanjut Ustad Gozali menambahkan ”kami ingin mendapat gambaran bagaimana membuat konsep kurikulum dengan berbagai level yang berbeda-beda. Harapannya kurikulum tersebut dapat kami buat dan diterapkan tahun ini”.

Sani, siswa asing dari Thailand yang bersekolah di Asyifa Boarding School mengemukakan bahwa ia mengalami kesulitan untuk memahami buku pelajaran. “Bahasa buku lebih sulit daripada bahasa sehari-hari” begitu komentarnya.

Menanggapi beberapa persoalan yang dikemukakan oleh rombongan, Dekan melihat titik fokusnya pada bagaimana menyusun kurikulum BIPA bagi anak-anak di Asyifa Boarding School baik tingkat SMP maupun SMA. “Tentu saja untuk menyusun kurikulum, secara teoritis kita perlu melakukan need assessment atau analisis kebutuhan. Dari situ kita harus menyusun instrumen. Kebutuhan yang berkenaan dengan aspek bahasa seperti apa, konten seperti apa, metodologi pembelajaran bagaiman, dan juga lingkup evaluasi. Untuk aspek bahasanya sendiri kita memerlukan tes penempatan (placement test). Di situ akan terlihat gradasinya seperti apa” ungkapnya.

Dr. Yulianeta, M.Pd. menjelaskan bahwa ada satu program dari LPPM UPI yang ditawarkan kepada dosen tahun ini yaitu, Dosen Datang ke Sekolah. Program ini untuk mendorong tumbuhnya sinergi antara dosen dan sekolah, supaya bisa saling berkerja sama untuk memecahkan permasalahan secara bersama-sama. Peluang ini dapat dimanfaatkan baik oleh departemen di FPBS UPI maupun sekolah.

Berkenaan dengan mahasiswa asing yang kuliah di Departemen Pendidikan dan Sastra Indonesia, Dr. Yulianeta, M.Pd.  mengatakan “mereka harus mengikuti kegiatan matrikulasi selama 6 bulan sebelum masuk ke kelas reguler. Di samping itu setiap mahasiswa asing tersebut akan didampingi oleh kakak kelasnya (tutor sebaya) untuk mempercepat proses belajar bahasa mereka.”

Di akhir pertemuan Dekan menyerahkan cendera mata kepada Ustad Gozali sebagai tanda kenang-kenangan. (Liris)

Translate »