Penawaran Hibah Penelitian dan PkM FPBS Tahun 2021

Kami informasikan bahwa pada tahun ini Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas
Pendidikan Indonesia kembali membuka kesempatan bagi para Dosen di lingkungan FPBS UPI
agar terlibat pada program Hibah Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) FPBS
Tahun 2021. Bapak/Ibu yang berminat mengikuti program terebut, silakan usulkan proposal
dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut.
1. Jadwal unggah proposal Penelitian dan/atau PkM tahun 2021 dimulai pada tanggal 15
Februari 2021 dan berakhir pada tanggal 28 Februari 2021.
2. Proposal Penelitian dan/atau PkM wajib diunggah pada laman http://litabmaslppm.upi.edu.
3. Ketentuan proposal yang diusulkan merujuk pada Peraturan Rektor Universitas Pendidikan
Indonesia Nomor 002 Tahun 2021 tentang Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat Tahun 2021, juga Edaran Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra
Universitas Pendidikan Indonesia tentang Pelaksanaan Penelitian Dosen di lingkungan FPBS
UPI.
4. Besaran dana yang diusulkan mohon disesuaikan dengan alokasi anggaran yang tersedia pada
masing-masing program studi.

Demikian kami sampaikan agar menjadi maklum. Atas perhatian dan keikutsertaan Bapak/lbu
kami ucapkan terima kasih.

Unduh berkas “Penawaran Hibah Penelitian dan PkM FPBS Tahun 2021”

NILAI-NILAI EDUKATIF DALAM PARIRIMBON SUNDA

NILAI-NILAI EDUKATIF DALAM PARIRIMBON SUNDA
(Eksplorasi Kearifan Lokal sebagai Landasan Etnopedagogi)

Yayat Sudaryat, O. Solehudin, Hernawan
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra
Universitas Pendidikan Indonesia
email: yayat.sudaryat@upi.edu

Abstrak: Pendidikan yang berorientasi kearifan lokal dan karakter akan melahirkan solusi yang tepat bagi permasalahan pembangunan bangsa. Kearifan lokal dapat ditelusuri dalam budaya Nusantara. Puncak-puncak budaya Nusantara (daerah) akan membentuk budaya Indonesia. Salah satu wujud budaya Nusantara dalah paririmbon (primbon). Penelitian ini secara komprehensif akan memaparkan nilai-nilai edukatif dalam paririmbon yang merupakan eksplorasi kearifan lokal sebagai landasan etnopedagogik. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik studi pustaka dan wawancara. Data diolah dengan metode hermeneutik
melalui analisis unsur langsung. Penelitian ini menemukan bahwa Paririmbon Sunda mengandung aspek pengetahuan seperti penanggalan, pernasiban, perwatakan dan firasat, peristirwa alam, dan tanda-tanda. Nilai-nilai edukatif paririmbon (primbon) mengacu kepada nilai edu-matematik, edu-kosmologis, edu-semiotik, edu-geografis, dan edu-grafosemantik. Nilai kearifan lokal dalam Paririmbon mengacu kepada nilai cinta lingkungan, ketaatan, tatakrama, kepercayaan, dan pendidikan karakter (kritis, kreatif, dan produktif). Nilai kearifan lokal tersebut dapat dijadikan landasan etnopedagodik karena mengacu kepada nilai keteraturan (kedisiplinan), keingintahuan, dan visioner. Nilai etnopedagogik berada dalam konteks nasionalisme yang bertujuan membangun bangsa ketahanan budaya. Sementara, dasar ketahan budaya adalah kearifan lokal.
Kata kunci: paririmbon, kearifan lokal, etnpedagogik, nilai edukatif

Strategi Pengungkapan Fakta Hukum di Pengadilan

Strategi Pengungkapan Fakta Hukum di Pengadilan: Studi tentang Strategi Bertanya Para Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum dalam Menemukan Fakta-Fakta dari Terperiksa

 Aminudin Aziz, R. Dian Dia-an Muniroh, Ripan Hermawan, Ernie D. A. Imperiani

Penelitian ini berada dalam area investigasi linguistik foreasik sebagai sub-investigasi wacana pengadilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana para hakim, jaksa penuntut umum, dan penasihat hukum, melalui bertanya, mendalami informasi dari terperiksa berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah dibuat oleh penyidik polisi dan mengungkap informasi apa dari BAP yaag lazim menjadi perhatian para hakim, jaksa penuntut umum, dan penasihat hukum ketika memeriksa di pengadilan. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu transkrip persidangan kasus pidana (TIPIKOR) dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah disiapkan oleh penyidik polisi. Analisis yang dilakukaan adalah analisis terhadap transkrip
rekaman audio yang mencakup identifikasi, kategorisasi, pemaknaan perspektif subyek penelitian, sintesis dan kesimpulan sehingga luaran yang diperoleh adalah mengetahui jenis pertanyaan dan strategi bertanya oleh hakim, jaksa penuntut umum, dan penasihat hukum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan Majelis Hakim (MH), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Penasihat Hukum (PH) menggunakan dua strategi bertanya yaitu strategi bertanya laugsung (direct questioning) dan strategi tidak langsung (indirect guestioning). Secara umum dari semua pertanyaan yang dilontarkan oleh ketiga personel persidangan yaitu MH, JPU, dan PH, petanyaan tertutup dengan daya paksa cukup tinggi mengungguli pertanyaan terbuka dan bila dilihat per jenis pertanyaan, terungkap delapan jenis pertanyaan, yaitu request narrative, request modal narratives, wh-questions, choice questions, interrogative yes/no, rising declaratives, dan tag questions. Untuk fakta di BAP yang lazim menjadi perhatian para porsonel persidangan, hasil analisis menunjukkan bahwa aparat hukum lebih fokus pada upaya mengklarifikasi keterangan yang ada di BAP daripada upaya pendalaman materi yang ada di BAP. Secara tidak langsung, hal ini merefleksikan bahwa MH, JPU, dan PH mempercayai hasil penyidikan oleh aparat kepolisian. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penegakan pengadilan yang berwibawa dan pantas.
Kata-kata Kunci: Hakim, Jaksa Penuntut Umum, Penasihat Hukum dalam perkara pidana, strategi bertanya dan wacana pengadilan

Penerapan Model In House Training (IHT)…

Penerapan Model In House Training (IHT) untuk meningkatkan Kemampuan Guru Bahasa Inggris dalam Mengembangkan dan mengimplementasikan Penggunaan Bahan Ajar

Nenden Sri Lengkanawati, Sri Setyarini, R. Della Kartika, Nicke Yunita
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra
Universitas Pendidikan Indonesia

 

Terbitnya peraturan Mendiknas No. 16 tahun 2007 mengenai Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi guru mensyaratkan guru untuk memiliki empat kompetensi yaitu: kepribadian, sosial, pedagogik, dan profesional. Namun demikian, ada 2 komptensi (pedagogik dan profesional) yang masih menjadi kendala bagi guru bahasa Inggris, khususnya di Jawa Barat. Masalah ini teridentifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh staf pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI yang terlibat dalam penyelenggaraan peningkatan kualitas kompetensi guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) memotret kemampuan guru bahasa Inggris dalam mengembangkan dan mengimplementasikan materi ajar; (2) merancang sebuah model IHT yang efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan mengimplementasikan penggunaan materi ajar; (3) mengujicobakan dan menerapkan model IHT dalam program pelatihan guru. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah deskriptif kualitaif dengan mengacu pada teori tentang pengembangan materi ajar (Crowford.2002) dan desain IHT (Wallace:1993). Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar responden menggunakan buku teks sebagai sumber pembelajaran utama selain hasil pengayaan materi yang diperoleh dari internet dan sumber lainnya. Meskipun sebagian besar dari mereka masih menemui kendala dalam mengembangkan materi yang sesuai dengan topik pembelajaran dan karakteristik siswa. Untuk itu, IHT sebagai program pelatihan guru dianggap perlu untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan mengimplementasikan materi ajar dalam pembelajaran bahasa Inggris tingkat SMP.
Kata kunci: kompetensi, sosial, kepribadian, pedagogik, profesional, materi ajar, IHT

Testimonial: Karyawan Berbakat vs Karyawan Berpengetahuan

oleh: Ahmadin

Seorang pakar bernama Peter Senge, tahun 2003 telah menghasilkan sebuah (kumpulan) pemikiran tentang Organisasi Abad XXI. Konsep ini dapat diterapkan di berbagai level organisasi di dunia, bisa untuk organisasi swasta, bisa juga untuk organisasi pemerintahan.

Berikut sebagian kecil materi dari buku tersebut yang dapat ditelaah oleh anggota organisasi baik level pimpinan maupun level staf. Materi tersebut berkaitan dengan keberadaan karyawan. Di dalam buku itu dibahas bahwa karyawan dikelompokkan mejadi Karyawan Berbakat versus  Karyawan Berpengetahuan. Hal ini dapat dimaknai bahwa: “Semua karyawan berbakat adalah karyawan berpengetahuan, tetapi tidak semua karyawan berpengatahuan adalah karyawan berbakat”.

1. Karyawan Berbakat Membuat dan Melanggar Aturan, Karyawan Berpengetahuan Menegakkan Aturan
Karyawan berbakat pada prinsipnya lebih berpotensi selalu:

  • Melanggar;
  • Menciptakan;
  • Memperkenalkan
  • Merumuskan;
  • Mengarahkan;
  • Menyebarkan aturan;
  • Berinisiatif; dan
  • Proaktif

Sementara itu, karyawan berpengetahuan tidak seperti karyawan berbakat.

2. Karyawan Berbakat Menciptakan, Karyawan Berpengetahuan Menerapkan
Karyawan berbakat pada dasarnya senang melakukan hal-hal:

  • Kreatif;
  • Tetapi membutuhkan karyawan berpengetahuan untuk menciptakan produk/jasa;
  • Ilmuwan.

 3. Karyawan Berbakat Memulai Perubahan, Karyawan Berpengetahuan Mendukung Perubahan
Karyawan berbakat biasanya:

  • Merasakan kebutuhan untuk berubah sebelum perubahan itu harus dilakukan;
  • Memulai perubahan di dalam organisasi;
  • Memerlukan pandangan dari karyawan berpengetahuan untuk mendukung perubahan.

Bagi karyawan berpengetahuan, sebaliknya.

 4. Karyawan Berbakat Melakukan Inovasi, Karyawan Berpengetahuan Bealajar
Pada dasarnya karyawan berbakat suka melakukan hal-hal:

  • Inovatif;
  • Sebagai guru;
  • Menciptakan bahasa terprogram dan mengajarkan kepada karyawan berpengetahuan.

Sementara karyawan berpengetahuan lebih cenderung:

  • Belajar dan menerapkan inovasi tersebut;
  • Sebagai siswa yang baik.

5. Karyawan Berbakat Mengarahkan, Karyawan Berpengetahuan Melakukan

  • Karyawan berbakat merumuskan visi-misi;
  • Karyawan berpengetahuan melaksanakan visi-misi.

6. Karyawan Berbakat Menginspirasi dan Memotivasi orang, Karyawan Berpengetahuan Menerima Informasi dan Motivasi
Karyawan berbakat pada umumnya:

  • Ingin membantu generasi baru;
  • Ingin memotivasi orang di sekitarnya;
  • Ingin melihat orang menjadi berhasil (jika orang itu gagal, dia frustrasi).

Karyawan berpengetahuan tidak memahami hal yang dilakukan oleh karyawan berbakat.

Semoga bermafaat bagi tenaga kependidikan yang selalu ingin terus berkembang dan mengembangkan diri dalam berorganisasi. Pertanyaanya, Anda masuk ke kategori karyawan yang mana? Silakan evaluasi diri Anda masing-masing.

Sumber (disarikan dari):

Senge, Peter. 2005. Organisasi Abad XXI. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Penilaian Hasil Penelitian Dosen FPBS Tahun 2014

FPBS akan menyelenggarakan penilaian hasil penelitian dosen pada tanggal 22-26 Desember 2014. Hasil penelitian yang dinilai adalah penelitian yang dibiayai dari dana hibah UPI dan/atau Dikti.

Tim penilai adalah dosen yang memiliki pengalaman meneliti dalam skala nasional atau internasional dan bersifat independen. Smentara itu, unsur atau komponen yang dinilai adalah:

1) Abstrak

meliputi aspek: burning issue dan tujuan penelitian; metodologi (sampel/responden, dan analisis data); temuan; dan kesimpulan.

2) Pendahuluan/Latar belakang

meliputi burning issue yang mengantarkan pada pentingnya penelitian, tujuan penelitian, landasan teori, laporan penelitian terdahulu yang terkait, dan pernyataan tesis yang memperlihatkan isi laporan.

3) Rumusan dan Langkah Pemecahan Masalah

4) Manfaat Penelitian

5) Kajian Pustaka

6) Prosedur Penelitian

7) Konten (temuan, pembahasan, dan kesimpulan)

Pemenang dengan peringkat I, II, dan III akan mendapat penghargaan dari Fakultas.