CERMINAN KEBUDAYAAN DALAM NAMA SISTEM PEMERINTAHAN

KEDAERAHAN DI KAMPUNG NAGA: KAJIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGIS

(Karya Tulis PKM-AI 2013-2014)

Oleh:

Amanda Putri Selvia, Jaenudin, dan Setyani Melati K. (Dept. Pend. Bhs. & Sastra Indonesia) FPBS UPI

ABSTRAK

Falsafah hidup menjadi landasan utama masyarakat Sunda dalam mempertahankan harmoni hidup antara manusia dan manusia (silih asuh), manusia dan alam (silih asah), serta manusia dan sang pencipta (silih asih) guna melangsungkan hidup yang tenteram dan damai. Pendekatan dalam kajian ini dipusatkan pada model etnografi komunikasi untuk memfokuskan kerangka acuan karena pemberian tempat bahasa di dalam suatu kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri, melainkan pada komunikasinya (Hymes Kuswarno, 2008: 11) untuk mengungkap klasifikasi, fungsi, dan cerminan gejala kebudayaan berdasarkan nama sistem pemerintahan di Kampung Naga. Terungkap klasifikasi  berdasarkan satuan lingual, kedinasan, dan kedaerahan. Sementara itu, fungsi sistem pemerintahan meliputi fungsi sosial, keselarasan, dan pengawasan kehidupan serta nama sistem pemerintahan kedaerahan dalam bahasa Sunda menyiratkan falsafah harmoni antara manusia dan manusia (silih asuh).

Kata kunci :

klasifikasi, fungsi, cerminan gejala kebudayaan, dan linguistik antropologis.

 

Translate »