Dian Hendrayana Raih Hadiah Sastra “Rancage” 2015

oleh

31 Januari 2015

Di bawah ini adalah rilis yang diterima admin melalui email dari Yayasan Kebudayaan Rancage, setelah sebelumnya admin meminta rilis ini melalui Dadan Sutisna (salah seorang pengurus Yayasan Rancage) dan telah mendapatkan ijin untuk mempublisnya:

Keputusan

HADIAH¬† SASTERA¬† ‚ÄĚRANCAGE‚Ä̬† 2015

Alhamdulillah¬†¬† Hadiah Sastera¬† ‚ÄúRancag√©‚Ä̬† untuk sastera Sunda, untuk sastera Jawa dan untuk sastera¬† Bali¬† diberikan setiap tahun tanpa putus, tahun ke-27¬† untuk sastera Sunda,¬† tahun¬†¬† ke-22 untuk sastera Jawa, tahun ke -19 ¬†¬†untuk sastera Bali, tapi untuk sastera Lampung hadiah ‚ÄúRancag√©‚Ä̬† tidak dapat¬† diberikan setiap tahun, karena buku karya sastera dalam¬† bahasa Lampung¬†¬† tidak selalu¬† terbit setiap tahun. ¬†¬†Tahun ¬†yang¬† lalu¬† (2014) juga tidak¬† ¬†ada¬† karya¬† sastera¬† dalam¬† bahasa Lampung ¬†¬†yang ¬†¬†terbit, sehingga tahun ini¬† juga tidak ada Hadiah ‚ÄúRancag√©‚Ä̬† yang ¬†diberikan untuk¬† sastera Lampung.¬† Syukurlah¬† pada tahun yang lalu terbit¬† karya sastera dalam bahasa Batak, setelah dua tahun¬† sebelumnya pun setiap tahun¬† terbit¬† buku karya sastera dalam¬† bahasa Batak. Ketika beberapa tahun¬† yang lalu terbit¬† buku¬† sastera¬† dalam bahasa Batak dan bahasa Banjar,¬† Yayasan Rancag√©¬† tidak¬† langsung mempertimbangkannya untuk diberi¬†¬† Hadiah¬† ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ, karena¬† kuatir nasibnya seperti sastera Lampung¬† tidak setiap tahun ada buku terbit.¬† Karena itu kami memutuskan¬†¬†¬† pemberian Hadiah¬† ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ baru dilaksanakan kalau dalam tiga tahun berturut-turut¬† ada buku baru yang terbit baik dalam bahasa Batak atau bahasa Banjar ‚Äď atau¬† bahasa ibu ¬†yang¬† manapun. Ternyata bahasa Batak¬† memenuhi persyaratan kami.¬† Buku dalam bahasa Batak terbit setiap¬† tahun. Sekarang sudah ada lima judul buku¬† sastera dalam¬† bahasa Batak, karena itu tahun¬† 2015 (semoga tahun-tahun¬† seterusnya juga)¬† kami memberikan Hadiah¬† Rancag√© untuk sastera Batak buat¬† pertama¬† kalinya.[1]

Hadiah Sastera ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ 2015¬† untuk sastera Sunda

Dalam tahun 2014, ¬†ada¬† 37 judul¬† buku terbit dalam¬† bahasa Sunda. Tapi tidak semuanya¬† dipertimbangkan untuk¬† mendapat¬† Hadiah Rancag√©.¬† Seperti telah ditetapkan, buku karangan Ajip Rosidi, c√©tak ulang, terjemahan, dan karya-bersama tidak dinilai.¬† Yang dipertimbangkan untuk mendapat¬† Hadiah Rancag√©¬† 2014¬† ada 19 judul karya 18 pengarang, ¬†sedang yang dipertimbangkan¬† untuk¬† mendapat¬†¬† Hadiah¬† Samsoedi, ada dua judul. Ke-19 judul¬† yang dipertimbangkan untuk mendapat¬† Hadiah¬† Rancag√©¬† adalah Dayeuh¬† Kasareupnakeun¬† (Kota Menjelang Senja) karya¬† Nazaruddin Azhar, Handeuleum na¬† Hat√© Beureum¬† (Daun Handeuleum dalam hati Merah) dan DuaWanoja (Dua¬†¬† Wanita) karangan Chy√© R√©tty Isn√©nd√©s,¬† L√©ptop¬† Kresna karya Yuharno Uyuh, Jurig¬† Congkang Bisul na Bujur¬† (Hantu¬† Congkang¬† pantatnya bisul) karya H. Us√©p¬†¬† Romli HM,¬† Lagu Ngajadi¬† (Lagu Menjadi) karya Dian H√©ndrayana,¬† Moal Dimumurah (Takkan dijual murah)¬† karya I. Asikin, Kembang-kembang Anten karya Aam Amilia,¬† Geulang¬† Koroncong karya Holisoh ME, C√©ntang Barang karya¬† Asikin Hidayat,¬† Ajo Pitbul karya Tatang Sumarsono, Mah√©r Budaya Sunda karya Elis¬† Suryani, Srikandi N√©angan Gaw√© (Srikandi Mencari Kerja) karya¬† Tiktik Rusyani, Mahakarya Cinta¬† Rahwana¬†¬† karya J√©j√©n Ja√©lani War,¬† Surat¬† ka Citraresmi¬† karya Didin Tulus, Kacapi Pamikat karya¬† √Čni Setiani, Indigo karya¬† karya Inda Nugraha Hidayat, Ngabungbang¬† jeung Sangkuriang karya Arthur S. Nalan dan Gurat-gurit¬†¬† Ngabuburit karya¬† √Čtti R.S.¬† ¬†¬†Sedangkan buku yang¬† dipertimbangkan¬† akan¬† mendapat¬† Hadiah Samsoedi, ada tdua judul, yaitu Kembang Asih di Pasantr√©n karya √Čdiyana Latief dan ¬†¬†Kasambet karya¬† Ahmad Bakri.

            Setelah dipertimbangkan dengan daria,  ditetapkan ada tiga calon untuk mendapat Hadiah Sastera Rancagé  2015 bahasa Sunda ialah  Kembang-kembang Anten,Dayeuh Kasareupnakeun  kumpulan  fiksi  mini, dan  Lagu Ngajadi kumpulan guguritan.

Kembang-kembang Anten roman karya  Aam Amilia, menyegarkan. Pangarang  sangat  cekatan dalam melukiskan hubungan antara laki-laki dengan wanita, baik suami istri,   maupun yang hanya  sebagai  teman. Pengarang terhitung berani mengemukakan masalah poligami. Nampak tidak kaku. Hanya dalam melukiskan Sutri  sadrah ketika  suaminya  berterus  terang tentang hubungannya dengan  Anten, secara psikologis kurang  meyakinkan.

Dayeuh Kasareupnakeun  karya Nazaruddin Azhar merupakan kumpulan  fiksi mini yang sedang sangat  digemari oléh para pengarang Sunda. Tidak hanya dimuat dalam majalah tetapi juga banyak  yang diterbitkan sendiri  oléh  pengarangnya  berupa buku  kecil  dan tipis.  Beberapa puluh judul mémang berhasil, tapi  sebagian lagi   lebih tepat disebut  gagal.   Sacara  umum fiksi mini Nazaruddin bisa digolongkeun kepada  karya ékspériméntal  yang  rajin mencari bentuk-bentuk  baru yang tepat untuk menyatakan   gagasan  yang khas  dalam bahasa Sunda. Ada yang  berhasil,  tapi banyak  juga  yang belum berhasil.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dalam kumpulan guguritan¬†(bentuk¬† puisi tradisional saperti¬† macapat¬† dalam sastera Jawa) berjudul¬† Lagu Ngajadi yang¬†¬† memuat 36 ¬†buah¬† karya Dian H√©ndrayana nampak bahwa penyairnya¬† sangat¬† menguasai bentuk dan t√©ma-t√©manya. Kata-katanya terpilih, benar-benar dipertimbangkan dengan matang agar bentuk guguritan¬† dengan t√©ma yang¬† didukungnya benar-benar sesuai, tidak asal jadi.¬† Sayang¬† di sana-sini masih terdapat kalimat yang terasa dipaksakan, seperti dalam menempatkan kata ‚Äúdeui¬† (lagi)‚ÄĚ dan ‚Äúba√©¬† (saja)‚Ä̬† misalnya¬† dalam kalimah ‚Äúmanggih tapak salira¬† tos deui lunta‚Ä̬† (Di dinya di Wanayasa, h.¬† 16).¬† Tapi tidak sampai menurunkan¬† mutu¬† imajinya.¬† Waktu menghadapinya¬† kita membacanya¬† dengan ‚Äúberahi‚ÄĚ. Dalam hal ini, bentuk sastera guguritan¬† yang sudah¬† tersedia sebagai¬† warisan¬† karuhun¬† ol√©h¬† Dian terus¬† dimamah dikunyah, diberi interpr√©tasi baru, diberi ruh baru, supaya tetap segar dan orisinal.

            Setelah  dibaca dan dipertimbangkan  lagi dengan saksama, maka ditetapkanlah bahwa   buku sastera Sunda yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015 untuk karya  adalah

Lagu Ngajadi

                                    Kumpulan guguritan  Dian Héndrayana

                                    (terbitan KSB Rawayan, Bandung)

            Maka kepada  Dian Héndrayana  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat karya berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

            Sedangkan orang yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015  untuk jasa  adalah

Aam Amalia

                                    Lahir di Bandung, 21 Désémber, 1946

berdasarkan pengabdiannya yang tidak pernah berhenti dalam menumbuhkan dan mengembangkan sastera Sunda baik  dengan  menulis karya  sastera maupun dengan mendidik calon-calon pengarang dalam bahada Sunda.

            Aam Amilia mulai  menulis   cerita péndék yang  dimuat dalam  majalah  Manglé ketika  berumur 16 tahun. Sejak waktu itu sampai sekarang Aam tidak  pernah  berhenti   menulis cerita dalam bahasa Sunda, baik cerita péndék maupun roman.  Di samping itu dia menulis cerita péndék dan roman dalam  bahasa Indonésia. Dia pernah menjadi redaktur dan wartawan majalah  berbahasa Sunda  dan  Indonésia, yaitu  Manglé, Hanjuang, Sipatahoenan, Galura, Kudjang, Koran Sunda,  dan Pikiran Rakyat sampai pensiun).

            Roman dan  kumpulan cerita péndéknya  yang sudah terbit  a.l. Samagaha (1969), Asmara Ngambah Sagara (1970), Lalangsé (1970), Puputon (1979),  Buron (1980),  Kalajengking (1980), Panggung Wayang (1992), Tempat Balabuh (1994), Sekar Kadaton (1994), Suminar (2008), Talaga Malihwarni (2012), dan  Kembang-kembang Anten (2014).

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sejak ¬†tahun 1970,¬† Aam tidak putus-putus¬† ‚Äúmengasuh‚ÄĚ calon pengarang. Caranya menularkan kemampuannya mengarang tidak formal, ¬†bisa di mana saja, termasuk ¬†di rumahnya. ¬†¬†Aam juga ikut membimbing ¬†calon ¬†pengarang di ‚ÄúCaraka Sundanologi‚ÄĚ bersama-sama dengan ¬†pengarang lain¬† seperti ¬†Adang S.,¬† √Čddi D. Iskandar, Duduh Durahman, Hidayat Susanto dan Abdullah Mustappa, di ‚ÄúDurmakangka‚ÄĚ, di ‚ÄúHPPM (Himpunan Penulis Pengarang Muda)¬† Nurani‚ÄĚ, dan di ‚ÄúPanglawungan 13‚ÄĚ yang berdiri ¬†di Majalah Mangl√© ¬†atas¬† inisiatip ¬†Abdullah Mustappa dan ¬†¬†Karno Kartadibrata. Para pangarang¬† yang¬† pernah ¬†dibimbing¬† ol√©h¬† Aam antaranya Tatang Sumarsono, H√©rmawan Aksan, Yus R. Ismail, Rosyid √Č. Abby, Usman Sup√©ndi¬† dan¬† S. Nataprawira.

            Kepada  Aam Amilia  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat jasa berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ 2015¬† untuk sastera Jawa

Seperti tahun-tahun sebelumnya  dalam tahun 2014 juga penerbitan buku karya  sastera dalam  bahasa Jawa didominasi  oléh karya  prosa, baik roman maupun  cerita péndék. Dalam tahun 2014 buku sastera Jawa yang terbit adalah 3 buah roman dan 7 buah kumpulan  cerita péndék, sedangkan kumpulan puisi  hanya  5  judul.

Nalika Rembulan Panglong  karya Tiwiek SA bercerita tentang Warno yang menjadi  penjudi dan penjahat kakap karena pengaruh lingkungannya. Waktu dia merampok tas orang yang  baru mengambil uang dari bank di rumahnya yang besar, tetapi  waktu  dibuka ternyata tas itu  hanya berisi guntingan ketrtas. Hal itu  membuat  si perampok  marah. Dan mau membalas dendam dengan merampok rumah besar itu.  Tapi waktu ia melaksanakan niatnya, ternyata Danardana, siempunya rumah tidak ada, karena ia seorang pengusaha tambak udang. Di rumah hanya ada isteri dan anak gadisnya yang cantik. Ia mau memperkosa  gadis itu, tapi  ibunya  membujuknya agar jangan memperkosa gadisnya, sebagai gantinya ia sendiri  bersedia diperkosa.

            Beberapa bulan kemudian, Warno mendengar bahwa Danardana mengusir isteri dan anak gadisnya, sehingga ia ingin mencari kedua wanita itu, karena dia sangat  terkesan  oléh kerélaan  bu Chamidah (isteri  Danar)  yang bersedia diperkosa  asal anaknya tidak, yang menyebabkan Warno  sadar akan kejahatannya  sendiri. Penyelesaiannya sangat dibuat-buat: Setelah bertemu dengan bu Chamidah, meréka merencanakan menikah, tetapi datang Danar  yang  mengajak rujuk (yang ditolak) dan Warmo ditangkap polisi  karena ketahuan menyimpan  senjata  api  tanpa  izin.

            Roman Purnama Kingkin karya Soenarjata  Soemardjo, melukiskan kehidupan anak muda yang saling kasihi. Arini mengasihi  Prono dengan tulus, tapi Prono menaruh  hati juga kepada Asih, saudaranya yang pernah tinggal  serumah. Hal itu baru diketahui Arini setelah meréka menikah. Tapi Arini tidak mau menghancurkan cinta Asih hanya karena dia.  Sedangkan Asih sudah patah hati  karena ditinggalkan  oléh Andik yang belakangan  menikah dengan  Asri yang ternyata  saudara kembar  Asih.

            Kumpulan  cerita péndék Prasetyaning Ati karya Tiwiek SA  kebanyakan melukiskan  kehidupan guru yang melarat namun tulus dan mencintai lingkungan dan pekerjaannya. Mawar Abang kumpulan cerita péndék Ariesta Widya yang pernah mengajar di berbagai  tempat di luar Jawa seperti   Tual (Maluku Tenggara) dan kota Manado  (Sulawesi Utara), sehingga  dalam  karyanya  terdapat panorama yang  bervariasi.  Ceritanya bernuansa terlalu lembut, tidak pernah ada konflik  terbuka, sehingga alurnya terasa datar.

            Nono  Warnono dalam  Malaikat Jubah Putih  yang terdiri dari 23  cerita melukiskan  pengalamannya waktu menunaikan ibadah haji yang sepanjang jalan mengalami  berbagai hambatan, tapi selalu dapat diatasi  karena adanya  penolong tidak dikenal  yang selalu memakai jubah putih.

Aku  Dasamuka lan Sengkuni  karya Papal Poerwanto yang memuat 14  buah cerita,  semuanya digarap secara khusus, yaitu  menggabungkan duinia nyata sebagai  latar dasarnya, dengan cerita  dari dunia fiksi yang  berasal dari cerita wayang atau ketoprak; atau sebaliknya: latar  dasar dunia fiksi dilanjutkan  dengan kehidupan nyata. Cerita dalam buku ini banyak yang menarik karena  digarap  dengan  latar berbagai variasi, termasuk masa réformasi. Gaya berceritanya juga  unik, sering sinis, misalnya  ketika mengeritik  keadaan sosial pada masa réformasi yang diwarnai dengan pelanggaran hak-hak asasi manusa  seperti penjarahan, perkosaan dan pembunuhan. Sayang  sekali kurang didukung  oléh penguasaan bahasa yang baik, termasuk penggunaan éjaan.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kumpulan cerita Nyolong Pethek karya¬† Ary¬†¬† Nurdiana, memuat 15 cerita. Ungkapan ‚Äúnyolong pethek‚ÄĚ dalam bahasa Jawa artinya ¬†suatu kejadian¬† yang¬† tidak terduga¬†¬† sama sekali. Ary¬† Nurdiana¬† dalam cerita-ceritanya¬†¬† dengan keyakinannya bahwa¬† tidak semua¬† yang kita rencanakan dengan baik tidak selalu berbuah¬† sesuai dengan¬† yang diharapkan, bahkan mungkin yang terjadi adalah sebaliknya.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Tiga¬† kumpulan guritan (puisi) yang terbit tahun lalu ialah Ngeluk Duwung Nggelung Gunung¬† karya R. Djoko Prakosa, Prasasti karya ¬†√Čko Wahyudi dan Sepincuk Rembulan karya Triman¬† Laksono. Djoko Prakosa yang berlatarkan seni tari,¬† banyak memanfaatkan √©f√©k bunyi dalam¬† karyanya. Misalnya dalam puisi ‚ÄúDakkekep¬† Citramu‚ÄĚ banyak digunakan kombinasi bunyi ‚Äďyu dan dilanjutkan dengan kombinasi¬† –yu dan ‚Äďtung di akhir kata (layu,¬† klayu, candhik ayu/ dakkekepi ing gawanganing langit / janji saresmi suci /¬† la√© ‚Ķ‚Ķ sesambat bapa biyung¬† gawangan¬† putung / driji-driji k√©langan petung!). Kombinasi bunyi itu menimbulkan¬† suasana haru dan kesia-siaan. Secara keseluruhan banyak puisi dalam kumpulan ini kehilangan totalitas karena penyair terlalu¬† memfokuskan kr√©ativitasnya pada asp√©k keindahan¬† bunyi, kurang memperhatikan asp√©k puisi¬†¬† lainnya.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Karya √Čko Wahyudi¬† Prasasti¬† memuat¬† 54¬† guritan. Penyairnya¬† guru sehingga banyak t√©manya tentang pendidikan¬† dalam¬† bermasarakat,¬† dan¬† m√©tafora yang digunakannya tidak ada yang gelap.

Sepincuk¬† Rembulan karya¬† Triman Laksana, memuat 117 guritan. Dibagi jadi tiga kelompok, ‚ÄúJagad Cilik‚ÄĚ, ‚ÄúJagad Gedh√©‚ÄĚ dan ‚ÄúJaman‚ÄĚ. Kelompok pertama memuat¬† guritan¬† yang t√©manya masalah-masalah hakiki manusia; kelompok kedua memuat guritan-guritan yang t√©manya¬† tentang¬† masalah¬† kehidupan antar-manusia di dunia yang luas; sedang kelompok ketiga memuat guritan-guritan yang¬† bert√©ma¬† yang¬† berkaitan dengan¬† perubahan. Dalam¬† guritan-guritannya penyair¬† cenderung menggunakan bahasa yang lugu, menyebabkan¬† terasa mengalir dan imaji-imaji visual yang mendukung guritan dalam ketiga¬† kelompok¬† itu¬† mudah dipahami. ¬†Misalnya¬†¬† guritan ‚ÄúSepincuk Rembulan‚ÄĚ (Jagad Cilik‚ÄĚ) yang¬† digunakan¬†¬† sebagai¬† judul kumpulan ini,¬† ¬†menyampaikan masalah¬† kesenjangan sosial¬† dalam masarakat¬† melalui pengam√©n kecil yang mengam√©n di¬† depan gedung DPR¬† yang megah.¬† ‚ÄúMbokmenawa mung¬† turahan¬† rasa¬† / gedong¬† gedh√© tan bisa disanak‚ÄĚ (mungkin hanya¬† sisa¬† perasaan /¬† gedung¬† megah tak mungkin¬† disapa‚ÄĚ. Orang kecil yang¬† sehari-harinya lapar dan tidur di beranda¬† langit memimpikan meraih bulan dilukiskannya ‚Äútangan√© ngrangg√©h rembulan / terus¬† dipincuk kertas koran / sing kebak¬† warta korupsi para pangarsa / arep dienggo sangu¬† turu / nyapih kaluw√©n kang¬† dawal ‚Ķ‚Ä̬† (tangannya meraih¬† bulan / terus dipincuk¬† kertas¬† koran / yang penuh berita korupsi¬† para pemimpin / untuk bekal¬† tidur / menahan rasa lapar yang panjang‚Äú.¬† Dalam kelompok ‚ÄúJagad Gedh√©‚ÄĚ ada sejumalh guritan yang menarik, antaranya ‚ÄúMung Duw√© Lamb√©‚ÄĚ (Hanya punya Mulut) , ¬†‚ÄúTangis‚ÄĚ, ‚ÄúSanajan‚Ä̬† (Meskipun), dan ‚ÄúKajiret Tali‚ÄĚ (Terikat tali).¬† Guritan p√©nd√©k¬† ‚ÄúMung¬† Duw√© Lamb√©‚ÄĚ sangat r√©ligius dengan kepasrahan masarakat kecil¬† ketika tak¬† berdaya¬† mengubah¬† nasib. Karena¬† mer√©ka hanya¬† mempunyai¬† mulut untuk¬† berdo‚Äôa.

            Setelah semua buku terbitan tahun 2014     dipertimbangkan dengan seksama maka ditetapkan bahwa Hadiah  Rancagé  tahun  2015  untuk sastera Jawa  jenis karya diberikan kepada

Sepincuk Rembulan

                                    Kumpulan  Guritan

                                    karya Triman Laksono  (lahir 7 Juni, 1961)

             Maka kepada  Triman  Laksana  akan disampaikan Hadiah  Rancagé  tahun  2015 buat karya berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Sedangkan orang yang mendapat Hadiah Rancagé  tahun 2015  untuk jasa  adalah

Yulitin  Sungkowati

                                    Lahir  tgl. 15 Juli 1970 di Purbalingga  Jawa Tengah

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Yulitin Sungkowati¬† adalah peneliti sastera Indon√©sia¬† dan Jawa yang bekerja di¬† Balai Bahasa¬†¬† provinsi Jawa Timur.¬† ¬†Dia lulusan¬† S-1 dan S-2¬† Fakultas Ilmu Budaya UGM. Karya penelitiannya dimuat dalam jurnal-jurnal penelitian seperti Atavisme¬† (Balai Bahasa Jawa Timur), M√©tasastera (BB Jawa Barat), Salinka (BB Sumatra), Widyaparwa (BB DI Yogyakarta), Kandai (BB Sulawesi Tenggara), Humaniora (FIB UGM), dll. Sedangkan hasil¬† penelitiannya yang dibukukan al.¬† Pot√©nsi¬† Cerita Rakyat D√©wi Rengganis (2008), Sastera dan Kritik Sosial (2009), Organisasi¬† Pengarang¬† dalam Dunia ¬†Sastera Jawa (2009), Organisasi Pengarang di Surabaya (2010). Di samping itu dia juga menerbitkan buku ilmiah popul√©r, misalnya Perempuan Seni Tradisi dan Kaum Santri dalam novel Kerudung Sant√©t Gandrung,¬† Kecenderungan Perempuan Pengarang Indon√©sia tahun 1998‚ÄĒ2003 dan sebagainya.

            Yulitin  juga sering memberikan ceramah tentang  sastera Indonésia dan sastera Jawa di berbagai kesempatan   di  berbagai tempat. Sebagai fasilitator dia pun terjun langsung sesuai dengan keahliannya, misalnya pada Béngkél Sastera Indonésia untuk SMA Kabupatén Sidoardjo, Lokakarya éjaan Bahasa Madura, Béngkél Sastera Jawa Guru SMP Kota  Mojokerto, dll. Ia juga aktif dalam kegiatan sastera Jawa yang diselenggarakan oléh Paguyuban Pengarang Sastera Jawa Surabaya (PPSJS).

            Kepada  Yulitin  Sungkowati   akan disampaikan Hadiah  Rancagé  sastera Jawa   tahun  2015 buat jasa berupa  piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ 2015¬† untuk sastera Bali

Tahun 2014 yl. buku karya sastera modéren dalam bahasa Bali  terbit 12 judul, turun 5 judul dari tahun  sebelumnya. Ke-12 judul buku itu buahtangan 10 orang pengarang terdiri  dari  2 roman, 1 prosa liris, 4 kumpulan sajak dan 5 kumpulan cerita péndék. Ada seorang penulis yang menerbitkan dua roman, yaitu I Madé Sugianto dan seorang lagi menerbitkan dua buah kumpulan sajak, yaitu I Ketut  Aryawan Kenceng. Yang delapan orang lagi  masing-masing  menerbitkan satu judul buku.

            Meskipun  judul buku yang terbit  tahun  ini lebih  sedikit dari tahun  sebelumnya, namun kehidupan sastera  Bali tahun 2014   tetap semarak karena adanya Bali  Orti (supelmén Bali Post Minggu) dan  rubrik Mediaswari (Pos Bali edisi minggu) yang selalu memuat  puisi dan cerita péndék dalam bahasa Bali.  Dan ternyata sebagian besar  karya  yang  terbit tahun 2014  adalah  buah tangan  penulis   muda,  termasuk yang  lahir  tahun 1994.

            Roman yang terbit  tahun 2014  ada dua judul, yaiutu  Sentana Cucu Marep (Anak Cucu Utama) dan Ratna Tribanowati, keduanya karya Madé  Sugianto yang pernah dua kali  mendapat Hadiah Rancagé, tahun 2012 untuk jasa dan tahun 2013 untuk karya. Sentana Cucu Marep merupakan  lanjutan  dari roman sebelumnya, Sentana, yang berpusat pada  masalah kasta  dan keturunan garis laki-laki.  Masarakat patrilinial Bali  menghargai anak laki-laki melebihi anak perempuan karena anak  laki-lakilah yang  akan  meneruskan garis keluarga. Konflik dalam roman ini terjadi  karena

ada cinta antara dua kasta yang  berbéda. Seorang laki-laki dari kasta rendah jatuh cinta kepada wanita berkasta tinggi (brahmana) yang juga mencintainya.  Cerita ini mengambil solusi bijaksana dengan memutus cinta terbelenggu kasta  melalui pernikahan rékayasa unuk menyelamatkan anak yang akan lahir dengan status brahmana yang akan menjadi  penerus  keluarga. Nampaknya roman ini  masih  akan berlanjut.

            Ratna  Tribanowati  mengisahkan seorang perawan tua (daha tua) yang selalu galau karena tak punya  pasangan  hidup. Masarakat mengucilkannya karena tahu  bahwa ibunya (Mén Gorio) adalah wanita yang menguasai  léak (black magic). Kisah ini mendapat inspirasi dari cerita Calonarang. Akhir cerita menggambarkan perang terjadi antara ibunda Ratna  yang menjadi rangda dengan tokoh désa yang menjadi  barong. Perang antara rangda dengan barong yang sering dipertunjukkan untuk  wisatawan  dikenal sebagai  pertarungan antara kejahatan dengan kebenaran yang diakhiri  dengan punahnya ilmu hitam. Sama dengan roman-roman Sugianto sebelumnya, Ratna Tribanowati ditulis dengan bahasa yang jernih, jelas dan cerita mengalir dengan  cepat karena konflik kurang kompléks.

Blanjong (nama tempat di daérah Sanur) adalah judul karya  Ni Madé Ari Dwijayanthi, memuat 35 judul prosa-liris. Semuanya mengungkapkan réfléksi diri atas berbagai persoalan dan fénoména kehidupan seperti soal waktu, tempat dan harta yang dalam  bahasa Bali  diungkap dalam kata  galah,  genah, dan gelah  yang memiliki persamaan bunyi suku akhir. Réfléksi penggalian makna kahidupan dan nilai-nilai dalam prosa-liris ini diungkapkan  dengan   berbagai cara  antara lain  dialog dengan diri sendiri atau introspéksi dan dengan orang lain, ékstropéksi.

            Keempat kumpulan sajak  yang terbit tahun 2014 adalah Batan Moning (nama tempat) karya IDK Raka Kusuma, Beruk  (Tempurung)  dan  Bikul (Tikus) keduanya karya I Ketut Aryawan Kenceng, dan Mlajah  (Belajar) karya Madé Suar Timuhun.  Persamaan karakteristik dalam sajak  yang dimuat di dalam keempat kumpulan itu terletak  pada kuatnya irama dan pola persajakan pada akhir baris  seperti syair.

Kesadaran penyair untuk membuat bunyi akhir sama sehingga terasa indah terlihat¬† sekali¬† pada karya-‚Äďkarya I Ketut¬† Aryawan Kenceng. Dia mencoba mengadopsi¬† pola haiku¬† (Jepang)¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†ke dalam bahasa Bali. Dalam kumpulan Beruk dan Bikul yang masing-masing memuat 55¬† haiku, penyairnya tak hanya tertib memenuhi¬† pola haiku (tiga baris dengan jumlah¬† suku¬† kata seluruhnya 17 dengan rincian tiap baris 5, 7, 5 suku kata ), melainkan juga dengan membuat tiap baris berkahir dengan suku kata yang sama. Contoh:

¬† ‚ÄúPurnama‚ÄĚ

Langité kedas

Jagaté mapayas

Kenehé ias 

 

artinya ¬†‚Äúlangit bersih / alam berhias / hati gembira‚ÄĚ.¬† Dengan bentuk¬† haiku yang singkat, I Ketut Aryawan¬† Kenceng berhasil mengungkapkan persoalan sosial yag menjadi sumber kepedulian publik seperti masalah r√©klamasi,¬† perubahan t√©knologi,¬† dan korupsi.

            Kelima kumpulan cerita péndék yang terbit tahun 2014 adalah  Lawar Goak (Lawar Gagak) oléh  I Ketut Rida, Belog (Bodoh) oléh  Tudékamatra, Yéning  Bénjang Tiang Dados Presidén (Kalau  nanti saya jadi   Presidén)  oléh I Putu Supartika, Paruman Betara (Rapat para Déwa)  oléh  I Wayan Sadha dan Ngurug Pasih (Menimbun Laut) oléh I Gedé Putra Ariawan.

Lawar Goak berisi 16 cerita yang berlatar kehidupan perd√©saan yang kena pengaruh kehidupan kota namun kepercayaan terhadap nilai-nilai magis¬† masih¬† kuat. Cerita ‚ÄúLawar Goak‚ÄĚ misalnya, melukiskan usaha tak¬† mengenal putus asa seorang d√©sa sampai akhirnya dia b√©bas¬† dari¬†¬† kemiskinan. Dalam usahanya mencari¬† pekerjaan baru, dia¬† harus¬† membuat¬† makanan berbahan¬† baku bayi gagak dan membawanya keliling d√©sa¬† tengah malam, penuh suasana mistis. Kisah mistis¬† juga¬† terdapat dalam cerita ‚ÄúUmah Tawah‚ÄĚ (Rumah An√©h). Selain t√©ma kerja keras dan mistis, dalam ceritanya¬† I Ketut Rida menyajikan t√©ma generasi muda perlu belajar di¬† sekolah, dan menerapkan pengetahuan dalam perilaku¬† baik di masyarakat untuk kebaikan¬† bersama. Nasehat-nas√©hat itu disampaikan¬† dalam¬† alur¬† cerita¬† dengan baik,¬† sehingga pembaca tidak merasa¬† digurui. I Ketut Rida pensiunan guru dan tinggal di¬† ped√©saan di Bali Timur, tak¬† mengh√©rankan kalau ceritanya¬† penuh nas√©hat dan mendidik.

Belog memuat 15¬† cerita sebagian merupakan kisah remaja yang lagi kasmaran, baik yang hidup di d√©sa maupun di kota. Penulisnya, Tud√©kamatra,¬† r√©latif¬† masih¬† muda, kelahiran tahun 1990, sehingga wajar¬† kalau dia masih dekat dengan dunia¬† remaja. Bahasa yang dia gunakan cukup baik, namun ceritanya kebanyakan sederhana seperti cerita ‚ÄúBelog‚ÄĚ yang melukiskan kekec√©waan seorang ibu yang mempunyai anak bodoh.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Penulis buku Y√©ning B√©njang Tiang Dados Presid√©n I¬† Putu Supartika lahir tahun 1994 (jadi 2014 baru 20 tahun umurnya), maka ceritanya¬† penuh hayalan atau cita-cita,¬† termasuk ingin¬† jadi¬† persid√©n atau pergi ke luar negeri. T√©ma lain adalah romantika remaja seperti ‚ÄúRindu‚ÄĚ cerita tentang seorang¬† laki-laki yang menjadi sangat murung karena¬† ditinggalkan¬† ol√©h¬† pacarnya yang¬† bekerja di¬† luar negeri. Karya-karya Supartika menunjukkan pemakaian bahasa yang lancar, sederhana, dan lugas¬† serta alur cerita yang¬† menarik. Sosok perempuan dalam cerita-ceritanya lebih kuat dan berpikiran luas daripada laki-laki, gambaran yang sebaliknya dari mitos dalam¬† masyarakat yang memandang perempuan¬† sebagai mahluk¬† lemah.

Paruman Betara karya  I Wayan Sadha memuat 24 cerita yang sebagian besar  merupakan skétsa masyarakat, banyak berisi sindiran terhadap  kehidupan sosial di Bali seperti masalah pariwisata dan térorisme, narkoba, serta  ihwal masyatrakat modéren yang percaya pada dukun. Dengan gaya  bahasa yang jenaka, Wayan  Sadha menyampaikan sindirannya melalui cerita.

Ngurug Putih memuat 15 cerita karya I Ged√© Putra Ariawan,¬† yang sehari-hari menjadi guru bahasa¬† dan sastera Indon√©sia di SMA. Dia banyak memanfaatkan¬† ungkapan dalam kearifan lokal Bali seperti ‚Äúluh luwih‚ÄĚ (wanita utama), ‚Äúmati suba ubadn√©‚ÄĚ (mati saja obatnya), sebuah ungkapan¬† yang¬† paradoksal¬† karena ‚Äúobat‚Ä̬† mestinya¬† membuat sembuh bukan mati.¬† Penggunaan ungkapan-ungkapan demikian tidak saja¬† membuat¬† bahasa cerita √©nak dibaca dan menyentuh¬† √©mosi¬† tetapi juga membuat¬† makna dan ungkapan kearifan lokal¬† Bali terus¬† terpakai dan diperkenalkan kepada pembaca. Cerita dalam buku ini merupakan satire atas¬† gejala-gejala sosial dalam pembangunan Bali yang seperti sudah di luar¬† kontrol. Cerita ‚ÄúNgurug Pasih‚ÄĚ misalnya menggambarkan¬† penjualan habis¬† tanah-tanah di Bali untuk villa dan dikuasai orang asing, sedangkan cerita ‚ÄúCar Free Night‚ÄĚ menggambakan kehidupn h√©donistik¬† dan hura-hura di da√©rah¬† perkotaan. Kedua cerita¬† itu dikombinasikan dengan¬†¬† baik dengan isu¬† black magic, kepercayaan yang juga menghiasi cerita-cerita yang lain di sini dan dalam¬† karyanya¬† yang¬† lain.

Maka  setelah semua buku terbitan tahun 2014     dipertimbangkan dengan seksama maka ditetapkan bahwa pemenang Hadiah  Rancagé  tahun  2015  untuk sastera Bali  jenis karya diberikan kepada

Ngurug Pasih

                        Kumpulan cerita péndék

karya  I Gedé Putra  Ariawan

(terbitan Pustaka √Čkspr√©si)

            Kepada  I Gedé  Putra Ariawan  akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang I(Rp. 5 juta).

            Sedangkan  Hadiah Sastera Rancagé tahun 2015 untuk  jasa dalam sastera  Bali akan  dihaturkan  kepada

                                    I  Nyoman Adiputra

                                    lahir di Kabupatén  Bangli, 11 Désémber 1947.

            I  Nyoman Adiputra adalah  Profésor Doktor Dokter  Universitas Udayana yang menciptakan  banyak  karya sastera  Bali  tradisional dan sastera Bali modéren dalam 20 tahun terakhir.  Sejak  1993  dia menciptakan sembilan karya jenis kakawin yaitu puisi Bali tradisional berbasis tembang menggunakan  bahasa Jawa Kuno, al.  Kakawin Udayana Mahawidya (Kakawin Universitas Udayana sebagai Sumber  Pengetahuan, 1993), Kakawin Bali Sabho Lango (Kakawin  Pésta  Kesenian Bali, 1997) dan Kakawin Candra Berawa (2015). Adiputra juga menciptakan puisi tradisional  Bali yang disebut sekar alit  yang  menggunakan bahasa Bali sehari-hari, judulnya  Gaguritan   PKB (Pésta Kesenian Bali).

            Yang menulis gaguritan, banyak, tapi yang  menulis kakawin sangat langka. Adiputra berhasil  menulis  kakawin antara lain karena sejak   menjadi murid SD menekuni dunia kakawin dan aktif melantunkan wirama (tembang Jawa Kuno) dalam kehidupan sehari-hari di masarakat di sela-sela  kagiatan  profesionalnya  sebagai  dosén dan prakték  dokter.

            Karya-karya Prof. Adiputra mendapat  sambutan  positif dari masyarakat dan   dari  dunia  universitas. Sudah ada  4  orang mahasiswa  yang menjadikan karya Prof. Adiputra sebagai bahan skripsi di Jurusan Jawa Kuno Universitas Udayana. Hal itu menunjukkan bahwa selain memperkaya khazanah sastera Bali, juga berguna dalam dunia pendidikan  sastera Bali.

            Selain menciptakan karya sastera tradisional, Adiputra juga menciptakan puisi Bali modéren. Dia  menulis  puisi  Bali modéren sejak tahun  1980, tapi baru tahun 2004 karyanya dikumpulkan dan  diterbitkan, antaranya Boréh  Cuka (2004), Pénjor (2005), Prelaya (Kehancuran, 2005), Wong Bali (2006), Basa Bali (2007).

            Kepada  I Gedé  Putra Ariawan  akan dihaturkan Hadiah Sastera Rancagé  tahun 2015  berupa piagam dan uang Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera ‚ÄĚRancag√©‚Ä̬† 2015 untuk sastera Batak

Ada lima judul¬† buku sastera Batak¬† terbitan ¬†2012 ‚Äď 2014 yang harus dipertimbangkan¬† mana yang¬† patut¬† mendapat Hadiah Sastera ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ yang¬† pertama¬† kalinya, walaupun¬† kelima¬† buku itu¬† karya seorang¬† pengarang,¬† ialah Saut Poltak¬† Tambunan (SPT) yang punya pengalaman sebagai¬† pengarang dalam¬† bahasa Indon√©sia¬† lebih¬† dari¬† 40 tahun sebelum menulis dalam bahasa bunya. Menurut¬† tahun terbitnya, kelima¬† buku itu¬† ialah¬† 1. Mangongkal¬† Holi (Menggali Tulang, kumpulan cerita p√©nd√©k, Maret 2012), 2. Mandera Na Metmet¬† (Bend√©ra Kecil, roman dua bahasa, ¬†April¬† 2013),¬† 3. Si Tumoing Manggorga Ari Si Sogot (Si Tumoing Mengukir Hari √Čsok, M√©i¬† 2013),¬† 4. Masih, Meski Bukan Yang Dulu, kumpulan¬† sajak¬† yang memuat juga¬† sajak dalam bahasa Batak, ¬†Agustus¬† 2013), dan Si Tumoing: Pasiding Holang Padimpos¬† Holong (Si Tumoing :¬†¬† Perp√©nd√©k Jarak, ¬†Teguhkan¬† Kasih,¬† Mei 2014).

            Urut-urutan terbit kelima buku itu  penting, karena kita akan melihat kian

meningkatnya kemampuan pengarang dalam  menggunakan  bahasa  Bataknya.  Dalam buku yang  awal, bahasa Bataknya  merupakan  terjemahan dari  bahasa  Indonésia. Kemudian  banyak kata   bahasa Indonésia yang terselip  di dalam  kalimat. Banyak kata-kata bahasa Batak yang salah tempat  atau  keliru  arti dan keliru tulis.

Dalam buku ¬†keempat, Masih, Meski Bukan yang Dulu, yang memuat¬† sajak dalam¬† dua bahasa, Indon√©sia dan Batak, sajak Indon√©sia¬† jauh¬† lebih banyak (85 buah) daripada sajak¬† dalam bahasa Batak (hanya¬† 8 buah). Untung sajak-sajak¬† bahasa Batak¬† jauh¬† lebih¬† baik. Pilihan kata-katanya wiwasa (spontan), sedikit¬† pun tidak terasa¬† ada pemaksaan, dan m√©taforanya¬† sarat makna. Iramanya terjaga sehingga¬† mustahil rasanya¬† mengg√©s√©r urutan kata¬† apalagi¬† mengurangi¬† atau¬† menambahnya. Hal itu jelas¬† terasa bila kita bandingkan beberapa larik pertama saja antara sajak berbahasa¬† Batak Toba ‚ÄúBungkas Ma Ho‚ÄĚ dengan¬† padanannya dalam bahasa Indon√©sia, ‚ÄúJangan Usik Kami di Tanah Sendiri‚ÄĚ. Untuk perbandingan ini pembaca tidak perlu tahu bahasa Batak. Baca saja dan perb√©daan mutunya akan langsung terasa:

Bungkas  Ma Ho         Jangan Usik Kami di Tanah Sendiri

 

Jamot marudungo-dungo                                Kami lelah di sini berjaga

Ngotngot patulangit tonggo-tonggo                berdarah-darah di tepi luka kian menganga

Pangiar anggukhangguk  tu désa na ualu      jerit  perempuan  langitkan andung

Ai  nunga  barsibalik  uhum sega gadugadu    wajah bumi kami berubah

Seperti  yang diakui oléh SPT  sendiri dalam bukunya  yang  pertama , baru

setelah hidup sebagai  pengarang  (dalam bahasa Indonésia)  lebih dari 40  tahun ia mempunyai  keinginan menulis  dalam bahasa ibunya,  bahasa  Batak Toba. Sedangkan generasi  muda Batak semakin kurang  berminat berbahasa ibunya. Dia tahu bahwa ada pengarang dari  daérah  lain  yang  menulis dalam bahasa ibunya.  Mengapa dia tidak?  Maka dia bermaksud  akan menterjemahkan cerita-cerita yang ditulisnya  dalam  bahasa Indonésia  ke dalam  bahasa ibunya.  Ternyata menterjemahkan cerita dari  bahasa Indonésia ke dalam  bahasa  Batak  itu tidak mudah,  sehingga ia pun  langsung  menulis  dalam  bahasa Batak. Meskipun pada awalnya susah, sehingga  banyak  kata-kata Indonésia  yang digunakannya.  Tapi  dia berusaha agar  lebih   menguasai  bahasa ibunya, dengan  antara  lain mempergunakan ungkapan-ungkapan  tradisional  yang merupakan kearifan lokal  daérahnya.

            Kelima buku sastera berbahasa Batak karya Saut Poltak Tambunan  patutlah dinilai menarik dan penting.  Menarik, karena ditulis dengan rancangan jalan cerita (plot)  berdaya tegang cukup tinggi; gaya penulisannya cukup jernih dengan kalimat sederhana dan  péndék-péndék.  Penting, pertama karena kelima buku ini berhasil menghadirkan sejumlah besar  kosakata yang mungkin belum  pernah didengar apalagi dipakai  oléh rata-rata penutur bahasa Batak Toba. Kedua, kelima buku secara keseluruhan berisi pokok-pokok persoalan yang mengancam, daya hidup masyarakat  penutur bahasa tersebut déwasa ini, dan yang penyelesaiannya sangat sulit.

            Pokok-pokok persoalan itu boléhlah  dirumuskan sbb: (1) Sejumlah tradisi;  seperti menggali  rangka tulang orangtua nénék moyang mungkin pengorbanan sia-sia; (2) Brain-drain habis-habisan dari désa-désa; (3) Kurangnya perhatian  masyaralat désa terhadap orang-orang lemah, seperti  yang  miskin dan cacat; (4) Besarnya pamrih perantau  suksés  dalam urusan kampung  halaman; (5) Hancurnya éko-sistim pedésaan mengikis kepekaan masyarakat terhadap  kehidupan; (6) Dalam hal ambisi orangtua ternyata  jauh lebih ganas  daripada anak-anak  meréka; (7) Kekuasaan, terlebih  dalam perang, sekalipun kecil-kecilan, bisa membuat pengorbanan paling  murni jadi sia-sia, utamanya pengorbanan ibu dan anak; (8) Kehidupan masyarakat  désa yang tabah dan mandiri sirna hanya dalam satu generasi; (9) Betapa kelirunya  pilih bulu yang  meminggirkan  anak perempuan  dan mengedepankan anak lelaki; dan (10) Kejamnya patriarki.

     Sepuluh pokok persoalan itu tergarap cukup baik dalam 10 cerpén  yang dimuat dalam buku ke-1 Mangongkal Holi. Itu kalau dibaca oléh bahasa Batak Tiba-nya  pas-pasan, tapi akan sangat terasa mengganggu  bagi  pembaca yang  kosa-kata basa Batak  Tobanya  di atas rata-rata.

Demikianlah 10 cerpén itu dapat dianggap mewakili ragam pokok persoalan tersebut.  Pokok persoalan ke-7 misalnya  digarap lebih rinci dalam buku  ke-2 (Mandera na Mémét, roman péndék tentang Perang Kemerdékaan yang  diceritakan oléh  seorang kakék kepada cucu-cucunya.

Yang merupakan  karya  sastera  yang utama dari  kelima karya SPT adalah karya

ke-3  dan karya ke-5, yang merupakan roman yang  bersambung, walaupun  pada bagian

akhir   terjadi pergantian tokoh utama, namun  témanya sama.

               Yang  sangat menonjol  pada akhir roman itu adalah betapa  hébatnya

 cengkeraman kekuatan tua yang sudah lama  mengendap, yaitu  adat  dan tradisi.

Tokoh utama pun, Tumoing sampai tergusur dari kedudukannya  sebagai tokoh  utama,

digantikan oléh seorang yang jauh lebih  tua. Marolop alias Ama ni  Mollling, pamannya,

yang lebih penting bagi adat dan tradisi. Hasrat Tumoing  untuk  mengukir hari  ésok

hanya sampai pada peran  tak sadar mengungkap rahasia besar pamannya yang sudah

lama terpendam. Imbalannya  cuma jadi pegawai  di perkebunan sawit milik  sepupunya

Bayu Langit bersama dengan gadis bekas pegawai  pramuniaga  toko  kecantikan  yang

lantas  jadi isterinya.

Namun jangan kira Marolop pendukung kekuatan lama yang bernama adat dan

tradisi. Sebaliknya terhadap adat dan tradisi itu  dia malah  pemberontak yang sangat radikal.   Dia  satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya sehingga dirinya berlipat-lipat  lebih bernilai di hadapan adat  dan tradisi . Semula dia calon lulusan perguruan tinggi paling bergéngsi, yang membuat dirinya yang sudah berlipat-lipat lebih bernilai  itu  bisa lebih  berlipat-lipat  lagi. Mendadak  semua itu dibuangnya  demi mengenang perempuan  kekasihnya yang ternyata  mau juga kawin dengan pria pilihan ayahnya. Marolop memilih hidup sendiri di pinggir hutan bersama seékor anjing.

Empat puluh tahun lamanya Marolop hidup seperti itu, pasrah terhadap segala,  sama sekali tanpa cita-cita.  Mendadak rahasianya terungkap. Ternyata kekasihnya melahirkan anaknya. Yah, anak itu anak Marolop, bukan anak suami kekasihnya. Mendadak nilai diri Marolop menjulang kembali di hadapan adat dan tradisi sebagaimana tampak pada ratapan  haru  adik perempuannya, ibu Tumoing. Kendati  semula gagap menghadapi peristiwa itu, Marolop akhirnya menerima  dirinya yang tiba-tiba menjulang nilainya itu.  Dia terima Bayu Langit, anaknya. Dia terima ibu Bayu Langit, Nurita yang suaminya  sudah meninggal, sebagai isterinya.  Dia terima  anak-anak tirinya.

Tidak  hanya  itu. Penerimaan tersebut dilakukan dengan upacara adat sepenuhnya,  tentu  tidak  hanya oléh Marolop  tapi juga oléh kekasihnya dan semua anak-cucu kekasihnya.  Malah kekasihnya itu paling bersemangat  dengan  réla  menanggung  segala biaya. Hanya  saja masyarakat  asal Marolop  sekalian saja mencengkeram  adat  dan tradisi kekasihnya, Nurita. Yah sungguh hébat cengkeraman kekuatan adat dan tradisi yang  sudah  lama mengendap itu!

Maka  Hadiah Rancagé  buat  sastera Batak Toba  tahun  2015  untuk karya adalah

Si Tumoing : Manggorga Ari Sogot  dan

Si  Tumoing : Pasiding Holang Padimpos Holong

                                    Karya  Saut  Poltak Tambunan

                                    Terbitan7 Selasar Pena Talenta, Jakarta.

Kepada   Saut  Poltak Tambunan  akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang  (Rp. 5 juta).

Sedangkan  Hadiah Sastera Rancagé tahun 2015 untuk  jasa dalam sastera  Batak akan  dihaturkan  kepada

Leonardus  Egidius Joosten

            Usia 72  tahun, lahir di Nuenen, Gerwen en Nederwetten

                        Menjadi WNI tahun 1994

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sejak¬† usia 29 tahun dia¬† bekerja sebagai imam¬† Katolik¬† di berbagai da√©rah di Sumatera Utara, seperti Tapanuli Utara dan Karo, sambil¬† bekerja untuk memelihara dan memajukan kebudayaan setempat pada umumnya dan sastera da√©rah Batak Toba pada khususnya.¬†¬† Karya-karyanya yang sudah terbit dalam bidang tersebut a.l.¬† Samosir : The Old¬† Batak Society (1992), Samosir Selayang Pandang (1993), De Oud Batakse Samenleving (1996), Samosir: Silsilah Batak (1996),¬† Kamus Batak Toba-Indon√©sia¬† (2001), terjemahan Toba-Bataks‚ÄĒNederlands Woordenbook karya Johannes Warneck yang aslinya¬† Toba Batak ‚Äď Deutches W√∂rterbuch (1996‚ÄĒ1997). Selain itu dia mendirikan¬† sejumlah musium¬† kebudayaan local seperti di Brastagi¬† (Karo) dan¬† Pangururan (Samosir).

Kepada  Leonardus Egidius Joosten   akan dihaturkan Hadiah Sastera \Rancagé  tahun 2015 berupa  piagam dan uang  (Rp. 5 juta).

                                                             *

Hadiah ‚ÄúSamsoedi‚ÄĚ 2015 untuk Bacaan Anak-anak berbahasa Sunda

Ada dua buku bacaan kanak-kanak yang tetbit tahun 2014, yaitu Nyi Sarikingkin  oléh T.B. Djajadilaga yang merupakan cétak ulang dan Kasambet oléh Ahmad Bakri yang merupakan  kumpulan  cerita   tentang  kehidupan anak-anak.

            Kasambet menceritakan kehidupan Jang Udin, anak jurutulis désa dengan kawan-kawannya. Secara tidak langsuing pengarang memberikan pelajaran dan bimbingan   bagaimana hidup  dalam masarakat yang baik. Bagaimana caranya agar rukun dengan kawan-kawan sepermainan, hormat kepada orang tua atau orang yang  lebih  tua, dan mengasihi  orang yang hidup berkekurangan atau yang lebih muda. Meskipun maksudnya  mendidik, namun  cerita-cerita dalam Kasambet mengandung  nilai sastera. Jalan ceruitanya membangunkan imaji pembaca karena watak setiap tokoh didukung oléh dialog yang hidup, yang  merupakan salah satu  kekuatan pengarang Ahmad Bakri.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dengan demikian¬† yang ditetapkan sebagai pemenang Hadiah¬† ‚ÄĚSamsoedi‚ÄĚ tahun 2015 adalah

Kasambet

                                    Karya  Ahmad Bakri

                                    (terbitan Kiblat Buku Utama)

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kepada ahli waris Ahmad Bakri akan dihaturkan Hadiah ‚ÄúSamsoedi‚ÄĚ tahun¬† 2015 berupa¬† piagam dan uang (Rp. 5 juta).

                                                          *

 Pabélan, 31 Januari, 2015

Yayasan Kebudayaan Rancagé

Ajip Rosidi

Ketua  Déwan Pembina

¬†[1] Setelah selesai menulis Keputusan ini, saya membalik-balik brosur Hadiah ‚ÄúRancag√©‚Ä̬† tahun 2012 dan membaca bahwa saya berjanji kalau ada buku dalam kedua basasa itu terbit¬†¬† pada tahun 2013 maka Hadiah ‚ÄúRancag√©‚Ä̬† akan dibeirkan kepada pengarang¬† yang menulis dan menerbitkan buku¬† dalam kedua bahasa itu. Kami di Yayasan Rancage¬† telah lalai¬† terhadap janji itu sehingga pada¬† tahun¬† lalu¬† (2014),¬† kami tidak memenuhi janji tersebut. Tahun ini kami¬† memberikan Hadiah Rancag√©¬† buat sastera Batak, insya Allah tahun depan kami akan memberikan¬† Hadiah ‚ÄúRancag√©‚ÄĚ ¬†buat sastera Banjar kalau dalam tahun 2015 ini ada buku baru terbit dalam¬† bahasa¬† tersebut.

Dian Hendrayana Raih Hadiah Sastra Rancage 2015

Berita lainnya…