VERBA BERENDONIM INDRA PENGLIHATAN DALAM BAHASA INDONESIA (SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF DAN SEMANTIK LEKSIKAL)

Oleh:

 Nuny Sulistiany Idris

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI

Alamat rumah: Jln. Pasirmalaka E2/20 Komplek Pasirjati Ujungberung Bandung

E-mail: nsulisty_99@yahoo.com

Abstrak

 

Indra penglihatan merupakan salah satu organ tubuh yang penting untuk manusia sehingga dihasilkan berbagai varian verba berendonim indra penglihatan, akan tetapi penelitian tentang hal ini sangat terbatas. Melalui penelitian ini yang menggunakan teori linguistik kognitif dan semantik leksikal diperoleh bahwa (1) verba berendonim indra penglihatan yang paling banyak digunakan adalah verba yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari yang paling sering dilakukan dan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak digunakan varian verba berendonim indra penglihatan, sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang semakin sedikit varian verba yang digunakannya; (2) skema representasi verba berendonim indra penglihatan mengambarkan hubungan antara makna verba ini dengan pemaparannya pada kamus dan penggunaannya pada kehidupan sehari-hari; dan (3) kognisi menentukan ranah penggunaan verba berendonim indra penglihatan dengan cara menghubungkan ruang mental dengan pengalaman indrawi penuturnya.

 

Kata kunci: Endonim, skema representasi, kognisi, ranah

PEMANFAATAN DALUANG DALAM UPACARA PELEBON PADA PEMELUK AGAMA HINDU DI BALI

oleh:

Tedi Permadi

Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI

Alamat: Jln. Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154

E-mail: tedipermadi@yahoo.com

 

Abstrak

Tulisan ini akan mencoba memaparkan mengenai keberadaan daluang sebagai sarana penunjang dalam kehidupan agama Hindu di Bali dan keterkaitannya dengan pemahaman daluang sebagai kertas suci dengan penekan pada hal, yaitu pentingnya daluang berdasarkan penelusuran teks-teks naskah kuna dan upaya pemasyarakatan kembali daluang sebagai sarana upacara setelah beberapa waktu dianggap punah,  khususnya dalam upacara pelebon atau ngaben. Di samping  itu, akan dipaparkan juga mengenai proses pembuatan daluang yang meliputi bagaimana proses pengolahan kulit kayu pohon papermulberryBroussonetia papyrifera Vent” sehingga menja-di jalinan serat dan lembaran kulit kayu. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan metode deskriptif analisis. Penelitian yang telah dilakukan meliputi studp pustaka, studi lapangan, rekonstruksi pembuatan daluang, dan pemanfaatan kembali daluang dalam pelaksanaan upacara pelebon di Bali. Adapun manfaat yang diharapkan dari tulisan ini berupa tersosialisasikannya keberadaan daluang sebagai kertas tradisional Indonesia.

 

Kata kunci: Daluang, pelebon, ngaben, hindu, bali

INTERNALISASI NILAI-NILAI AKHLAK SUFI MELALUI PENGKAJIAN KITAB SIRRUL ASRAR PADA IKHWAN THARIQAH QADIRIYYAH NAQSYABANDIYYAH DI PESANTREN SURYALAYA TASIKMALAYA

oleh:

Dudung Rahmat Hidayat

Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FPBS UPI

Alamat: Jln. Dr. Setiabudi No.229 Bandung 40154

 

Abstrak

 

Penelitian ini dilatarbelangi oleh realitas kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, yang sedang dilanda berbagai prilaku aneh, bahkan  telah terjadi dan sedang terjadi krisis moral dan akhlak. Kualitas ummat kurang menonjol, tertinggal, kurang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Konflik umat sering terjadi seperti perselisihan, pertengkaran, bentrokan, perebutan kekuasaan, dan mudah diadu-domba. Fenomena-fenamena seperti ini telah terjadi  pula pada masa Syeikh Abdul Qadir Jailani (SAQJ) dan beliau berhasil menemukan solusi cara mengatasinya, dengan melahirkan beberapa buah fikiran, cara, strategi yng tertuang diantaranya dalam kitab Sirr al-Asrâr Fîma Yahtâju Ilaihi al Abrâr. Tujuan yang hendak di capai dalam penelitian ini adalah: Menjelaskan struktur penyajian tema dalam kitab Sirr al-Asrâr; Menjelaskan nilai-nilai akhlak sufi yang terdapat dalam kitab Sirr al-Asrâr, dan Menjelaskan metode penanaman nilai-nilai akhlak sufi isi dan kandungan kitab Sirr al-Asrâr. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif, dengan memakai metode kualitatif dan teknik analitik. Tahap-tahap yang dilakukan adalah penyusunan data yang meliputi proses kategorisasi dan pencatatan, reduksi data, penarikan data, dan pembahasan. Pengumpulan data dengan teknik analisis isi, wawancara, dan Oservasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk mengatasi persoalan masyarakat seperti adanya konflik, perselisihan, pertengkaran, permusuhan, korupsi dan lain-lain, maka solusinya harus datang dari kemauan dan kesadaran diri sendiri. Mengenal diri sendiri sebagai makhluk Allah akan membuka jalan untuk mengenal Al Khaliq Allah SWT, yang pada gilirannya akan mendorong untuk memperbanyak dzikr kepada-Nya. Membersihkan jiwa dan raga dari kotoran, noda dan dosa melalui, riyadah taqarrub kepada-Nya. Kitab Sirr al-Asrâr Fîma Yahtâju Ilaihi Al Abrâr berisi terapi dan penjelasan bagaimana seharusnya seseorang berbuat manakala ingin mencapai derajat yang sempurna ilmu dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Proses internalisasi nilai-nilai sufistik dilakukan melalui cara dan tahapan-tahapan tertentu yaitu, a) Talqin, bagi setiap orang yang masih baru belajar dzikir, ditalqin oleh mursyid atau olah wakil talqin; b) Tanbih, berupa peringatan dan ikrar untuk melaksanakan aturan dari mursyid yang harus dipatuhi oleh seluruh ikhwan; c) Dzikir harian; d) Khataman; dan e) Manaqiban dan kegiatan lain yang relevan. Penelitian ini merekomendasikan kepada: 1) lembaga terkait untuk memantapkan kiprahny, dengan mengembangkan cara-cara, strategi para pemikir kitab Sirr al-Asrâr dengan disertai inovasi-inovasi dari yang datang kemudian. 2) siapa saja terutama yang berkecim-pung dalam bidang pembinaan moral, iman, dan taqwa untuk tidak bosan-bosan berbuat, memikirkan solusi mengatasi persoalan umat dan persoalan bangsa pada umumnya, dengan memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

Kata Kunci: internalisasi nilai, akhlak sufi, ikhwan thariqah.