Bandung, 19 Juli 2025. Bertempat di Taman Budaya Jawa Barat, Festival Visual Mapping 101 Dongeng Sunda Wa Kepoh sukses digelar sebagai ruang ekspresi budaya yang inklusif dan edukatif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek pendidikan berkualitas (SDG 4), pengurangan kesenjangan (SDG 10), dan pelestarian budaya dalam kota yang berkelanjutan (SDG 11).
Festival dibuka secara meriah dengan penampilan Tari Penyambutan dari Katumbiri sebagai simbol semangat budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat urban. Dalam semangat kolaboratif, festival ini menghadirkan penampilan pendongeng dari berbagai unsur masyarakat: pejabat, dosen, guru, mahasiswa, siswa SD, SMP, SMA, dan kelompok lansia. Para pendongeng membawakan dongeng Sunda dengan gaya khas masing-masing, mencerminkan kekayaan warisan lisan yang terus relevan lintas generasi.
Ahmad Fuadin, S.Pd., M.Pd., selaku penanggung jawab festival, dalam sambutannya menyampaikan:
“Festival ini kami persembahkan bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga sebagai tuntunan untuk memperkuat jati diri kita sebagai bangsa, melalui warisan luhur yang dikisahkan dari generasi ke generasi”.
Wakil Wali Kota Bandung, Dr. H. Erwin Affandi, S.E., M.Pd., yang turut hadir, untuk membuka acara tersebut menekankan bahwa kegiatan ini selaras dengan arah kebijakan pembangunan berbasis budaya.
“Ini bukan sekadar festival, melainkan gerakan kultural. Pemerintah Kota Bandung mendukung penuh inisiatif seperti ini yang mampu memperkuat identitas lokal dan membangun ruang-ruang ekspresi budaya yang inklusif,” tegasnya.
Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Swedi Hananta, S.S., M.Hum., juga menegaskan pentingnya pelestarian budaya takbenda.
“BPK adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan menjaga kekayaan budaya Indonesia, termasuk dongeng-dongeng daerah yang kini mulai hidup kembali lewat ruang-ruang kreatif seperti festival ini,” ujarnya.
Festival ini menjadi salah satu praktik baik dalam mendekatkan pendidikan budaya kepada masyarakat secara lintas usia dan lintas kemampuan. Melalui dongeng, generasi muda diajak mencintai tradisi dan mengembangkan literasi budaya sejak dini, sementara kelompok rentan diberi ruang partisipasi aktif sebagai bagian dari masyarakat yang setara.
Dengan pendekatan visual mapping dan narasi lokal, Festival 101 Dongeng Sunda Wa Kepoh tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keberagaman, inklusi, dan ketahanan budaya menuju masyarakat berkelanjutan.
(Ahmad Fuadin)