Bandung, WPs. - Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd., M.Pd. menyampaikan pidato dalam Pagelaran Rumawat Padjadjaran ke-109 bertajuk “Wanoja Sadayana: Gelar Geunjleung Puspa Karima” yang digelar di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Jumat (23/1/2026). Melalui pidato tersebut, ia menyoroti pentingnya peran perempuan Sunda dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan seni serta budaya kepada generasi berikutnya di tengah perkembangan zaman.
“Kalau perempuan dihargai, seni akan hidup. Kalau seni hidup, budaya tidak akan sunyi. Sunda adalah jati diriku, darah Sunda adalah jiwa ragaku,” ujar Prof. Retty Isnendes dalam pidatonya. Kutipan tersebut menjadi penegasan bahwa perempuan bukan sekadar pelaku dalam kesenian, melainkan juga penjaga nilai, penggerak kreativitas, serta pewaris kebudayaan yang menyalurkan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perempuan Sunda sejak lama memiliki posisi strategis dalam berbagai ruang kebudayaan, mulai dari panggung seni pertunjukan, pendidikan, hingga peran kepemimpinan dalam komunitas budaya. Kehadiran perempuan tidak hanya memperkaya ekspresi artistik, tetapi juga menjaga keberlanjutan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Sunda.
Pidato tersebut juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Sustainable Development Goal 4 dan Sustainable Development Goal 5. Melalui pendidikan seni dan budaya, perempuan Sunda berperan sebagai pencipta, pendidik, pemimpin, sekaligus penggerak komunitas yang membangun ruang belajar lintas generasi.
Namun demikian, Prof. Retty Isnendes juga menyoroti bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah seni Sunda kerap kurang terdokumentasikan secara memadai. Banyak karya, gagasan, dan dedikasi perempuan yang hidup dalam praktik budaya sehari-hari, tetapi belum sepenuhnya tercatat dalam narasi sejarah kebudayaan. Oleh karena itu, ia mendorong adanya upaya lebih serius dalam mendokumentasikan dan mengapresiasi kiprah perempuan dalam dunia seni.
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, perempuan Sunda dinilai semakin adaptif dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pelestarian budaya. Melalui media digital, berbagai karya seni tradisional mulai dari musik, tari, hingga sastra diperkenalkan kembali kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Menutup pidatonya, Prof. Retty Isnendes kembali menegaskan bahwa masa depan seni dan budaya Sunda tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan. Selama perempuan dihargai dan diberi ruang untuk berkarya, seni akan terus tumbuh, budaya akan tetap hidup, dan identitas Sunda akan terjaga di tengah perubahan zaman. (Haidar Ali Dzulfikar dan Dian Hendrayana)