Bandung, 15 November 2025 - Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Salah satu mahasiswanya, Febri Herdiyanti dari Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, berhasil meraih Juara 3 pada Pasanggiri Nulis Naskah Monolog Basa Sunda 2025. Kompetisi tingkat provinsi yang digelar oleh Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Universitas Padjadjaran ini berlangsung pada 1–27 Oktober 2025 dengan mengusung tema “Ngamumulé Basa, Manjangkeun Carita.”
Sebanyak 18 naskah mengikuti proses kurasi sebelum akhirnya terpilih 10 karya terbaik untuk dinilai secara mendalam oleh dua pakar sastra Sunda, yaitu Taufik Rahayu, M.Hum., dan Dr. Asep Yusup Hudayat, S.S., M.A. Penilaian dilakukan berdasarkan kekuatan karakter, alur cerita, kedalaman tema, serta relevansi budaya. Pada ajang tersebut, Febri mengajukan naskah berjudul “Lantéra Élmu”, sebuah monolog yang mengangkat kisah perjuangan Raden Dewi Sartika, tokoh perempuan Sunda pelopor pendidikan bagi kaum perempuan pada masa kolonial.
Naskah “Lantéra Élmu” menuai apresiasi karena berhasil menampilkan sisi humanis, keteguhan, dan dedikasi Dewi Sartika melalui penuturan yang kuat dan emosional. Pada acara penganugerahan yang digelar pada 13 November 2025 di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang UNPAD, salah satu narasumber, Dr. Asep Yusup Hudayat, S.S., M.A., menyoroti keunggulan karya tersebut. “Kekuatan karakter, alur, hingga kedalaman penulisan menjadikan naskah tentang Dewi Sartika memenuhi beberapa kriteria penilaian penting,” ujarnya.
Pada saat ditemui, Febri mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menuturkan bahwa proses kreatif dalam menulis “Lantéra Élmu” telah memberinya pemahaman yang lebih mendalam mengenai perjuangan Dewi Sartika dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan pada masanya. “Saya ingin mengenalkan kembali Dewi Sartika kepada generasi muda melalui seni pertunjukan yang dekat dengan kehidupan mereka. Menulis monolog ini membuka mata saya tentang betapa besar perjuangan beliau dan betapa pentingnya kita terus merawat sejarah tersebut,” ujar Febri.
Ia juga berharap generasi muda, khususnya nonoman Sunda, semakin berani menulis dan mengangkat nilai-nilai budaya lokal. “Jika kita tidak berani menulis karya yang mengangkat nilai-nilai Kesundaan, siapa lagi yang akan meneruskan cerita-cerita Sunda kepada generasi selanjutnya?” tambahnya.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI, Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi atas capaian tersebut dan menekankan bahwa prestasi mahasiswa merupakan bagian dari komitmen Prodi dalam memperkuat literasi budaya, kreativitas, dan karakter akademik mahasiswa. Beliau menegaskan bahwa karya seperti ini selaras dengan upaya Prodi mendukung tercapainya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 11 (Pelestarian Budaya Lokal) melalui pengembangan karya sastra yang berakar pada kekayaan budaya Sunda.
Prestasi yang diraih Febri Herdiyanti menjadi bukti bahwa mahasiswa FPBS UPI memiliki potensi besar dalam merawat bahasa dan budaya Sunda melalui karya-karya kreatif yang inspiratif dan relevan dengan perkembangan zaman. Pencapaian ini diharapkan mampu mendorong lebih banyak generasi muda untuk terus berkarya, mencintai budaya lokal, dan memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan identitas budaya Sunda.
Febri Herdiyanti