Sastra Hingga Jurnalistik, Diklat Turus Asah Daya Cipta Mahasiswa Sunda UPI

8 Januari 2026

Diklat Turus Hima Pensatrada FPBS UPI di Perpustakaan Ajip Rosidi
Diklat Turus Hima Pensatrada FPBS UPI di Perpustakaan Ajip Rosidi

Bandung, 8 Januari 2026 - Bidang II BEM Hima Pensatrada FPBS UPI menyelenggarakan sidang karya sebagai puncak kegiatan pendidikan dan latihan (diklat) Subbidang Turus di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian Diklat Turus yang bertujuan menumbuhkan semangat berkarya mahasiswa Sunda dalam bidang kepenulisan.

Diklat Turus diikuti oleh 26 peserta angkatan 2025 yang tergabung dalam angkatan “Aksanala. Rangkaian kegiatan diklat telah dilaksanakan sejak 22 Desember 2025 dan berlangsung selama lima pertemuan dengan intensitas satu kali setiap minggu. Selama kegiatan, peserta dibekali materi kepenulisan sastra dan jurnalistik sebagai dasar penguatan daya cipta dan daya kritis mahasiswa.

Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan sejumlah pemateri yang merupakan alumnus Turus dan telah berkecimpung di dunia kepenulisan, bahkan sebagian di antaranya telah menerbitkan buku.

Kehadiran pemateri dari alumni bertujuan agar tali silaturahmi tidak terputus, sekaligus membangun semangat anggota baru untuk terus berkarya, ujar Afta Al-Insani F., selaku penanggung jawab Diklat Turus.

Sidang karya menjadi ruang evaluasi sekaligus apresiasi atas proses kreatif peserta. Karya yang dihasilkan tidak hanya berupa karya sastra, seperti sajak dan cerita pendek, tetapi juga karya jurnalistik berupa resensi dan berita. Dengan demikian, pengukuhan peserta tidak semata menjadi peresmian anggota baru, melainkan juga bentuk pertanggungjawaban proses pembelajaran selama diklat.

Saya tidak menyangka karya yang telah dibuat benar-benar dibimbing dan diapresiasi oleh panitia, tutur Haidar Ali D., salah seorang peserta Diklat Turus.

Sejalan dengan tujuan diklat, karya-karya peserta tidak berhenti pada ruang internal organisasi. Panitia merencanakan pengiriman karya terbaik ke media berbahasa Sunda, seperti Mangle dan Galura, sebagai langkah awal memperkenalkan karya mahasiswa ke ruang publik.

Turut memberikan apresiasi, Pembimbing Kemahasiswaan Hima Pensatrada FPBS UPI, Ade Sutisna, menilai Diklat Turus sebagai ruang strategis pembinaan kreativitas dan tanggung jawab intelektual mahasiswa.

Diklat Turus menjadi wahana penting untuk melatih kepekaan berpikir, kepekaan rasa, serta tanggung jawab intelektual mahasiswa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar merawat kebudayaan Sunda melalui karya, ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berkelanjutan dan mendorong mahasiswa untuk lebih berani membawa gagasan serta karya ke ruang publik.

Mahasiswa perlu didorong agar tidak berhenti pada proses latihan, tetapi berani menghadirkan karya sebagai kontribusi akademik dan kultural, tambahnya.

Pemilihan Perpustakaan Ajip Rosidi sebagai lokasi kegiatan pun memiliki makna tersendiri. Menurut Windiana Nurhalisa, salah seorang panitia diklat, lokasi tersebut dipilih bukan semata karena letaknya yang strategis, melainkan juga karena nilai historis dan kultural yang dikandungnya.

Perpustakaan Ajip Rosidi menyimpan jejak panjang kebudayaan Sunda. Tempat ini menjadi simbol perjuangan Ajip Rosidi sebagai tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kesundaan, jelasnya.

Melalui Diklat Turus, mahasiswa tidak hanya difasilitasi ruang untuk berkarya, tetapi juga didorong untuk berani menempatkan tulisan sebagai medium intelektual dan kultural, sekaligus bagian dari regenerasi penulis Sunda di lingkungan kampus.

Kontributor: Hilal Adha, Dian Hendrayana