Bandung, 23 Oktober 2026 - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026 (PIMNAS 39 2026), sebagaimana diumumkan pada 13 Oktober 2026 melalui portal resmi Simbelmawa Kemdiktisaintek. Tim yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia serta Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda ini menjadi satu dari 420 tim yang lolos ke PIMNAS dengan penelitian berjudul “Menjaga Bumi lewat Seni: Peran Lagu Ritual Padi Kasepuhan Gelar Alam dalam Menjaga Ekologi dan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal.”
PIMNAS ke-39 akan dilaksanakan pada 2–7 November 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ajang tahunan tingkat nasional ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempresentasikan dan mengompetisikan karya hasil Program Kreativitas Mahasiswa.
Riset Lapangan: Berangkat dari Krisis Lingkungan
Penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Tim melihat kearifan lokal masyarakat adat sebagai sumber pengetahuan yang layak dikaji, khususnya lagu ritual padi yang masih hidup di Kasepuhan Gelar Alam. Untuk memperoleh data, tim melaksanakan riset lapangan di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 16–18 Juli 2026. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana seni ritual mampu menjaga kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan secara berkelanjutan.
Temuan Ilmiah: Lima Pola Eko-Metafora Padi
Dari penelitian tersebut, tim menemukan kebaruan berupa kedudukan kawih (lagu) ritual padi yang berakar pada tiga pilar, yaitu performansi budaya aktif, indeksikalitas, dan partisipasi. Tokoh adat setempat, Ki Koyod, menegaskan bahwa kesenian yang ditampilkan dalam ritual merupakan kesenian Kahuripan, yang meliputi lisung, dogdog lojor, bende, jipeng, topeng, hingga angklung.
Dengan perspektif ekosofi dan kerangka ekolinguistik Stibbe (2015), tim mengidentifikasi lima pola eko-metafora yang mempersonifikasikan padi layaknya daur hidup manusia. Padi digambarkan sebagai bayi dalam kawih Ayun Ambing, sebagai pasangan dalam kawih Randa Ngendong, sebagai pengantin dalam kawih Hujan Palis, sebagai tamu agung dalam kawih Kembang Kelor, dan sebagai titipan Ilahi dalam kidung Jalan Sorompodan.
Seluruh dinamika ritual tersebut bermuara pada falsafah mupusti pare, lain migusti, yaitu poros ekosofi yang memandu masyarakat untuk memuliakan padi tanpa menuhankannya. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam di Kasepuhan Gelar Alam tidak dibangun melalui instruksi teknis yang kaku, melainkan melalui pembentukan moral kolektif yang ditanamkan turun-temurun melalui kesenian.
Tim Peneliti dan Harapan Menuju Semarang
Tim PKM-RSH ini diketuai oleh Allysa Maulia Rahman dengan anggota Rini Evilianti, Nur Syafiqah, dan Nadiana Indri Ramadani dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Dika Fihara dari Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda. Tim dibimbing oleh Undang Sudana, S.S., M.Hum. Perpaduan keilmuan sastra Indonesia dan pendidikan bahasa Sunda memperkaya kajian tim dalam membaca teks lisan, nilai budaya, dan konteks sosial masyarakat Kasepuhan.
Allysa Maulia Rahman, ketua tim, mengungkapkan rasa syukur atas capaian ini. “Berawal dari tugas akhir matkul, tidak menyangka akan membawa kami sejauh ini,” ujarnya. Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh anggota. “Selamat tim, kita resmi lolos PIMNAS! Terima kasih atas dedikasi luar biasa kalian. Mari tuntaskan apa yang sudah kita mulai. Proud of us! Let’s go!”
Melalui penelitian ini, tim berharap kearifan lokal masyarakat adat dapat dikenal sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi pelestarian lingkungan dan penguatan ketahanan pangan. Gagasan ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 15: Ekosistem Daratan. Perkembangan kegiatan tim dapat diikuti melalui Instagram @pkmrsh_senijagabumi.
Keberhasilan tim menembus PIMNAS ke-39 menjadi bukti kreativitas dan kemampuan mahasiswa FPBS UPI dalam mengangkat budaya lokal menjadi kajian ilmiah yang bermakna. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berkarya, meneliti, dan melestarikan kearifan lokal, serta berani bersaing di tingkat nasional.