Universitas Gorontalo Persiapkan Prodi Pendidikan Bahasa Daerah melalui Benchmarking ke UPI

22 September 2025

Universitas Gorontalo Benchmarking Prodi Bahasa Daerah ke UPI
Universitas Gorontalo Benchmarking Prodi Bahasa Daerah ke UPI

Bandung, 22 September 2025 – Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan perannya sebagai pusat rujukan pelestarian bahasa daerah. Dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan kurikulum, riset kebahasaan, hingga pengabdian masyarakat, prodi ini menjadi mitra strategis bagi perguruan tinggi lain di Indonesia.

Peran tersebut semakin nyata ketika UPI menerima benchmarking dari Pusat Studi Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada Senin, 22 September 2025. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan sekaligus refleksi penting tentang bagaimana UPI membangun prodi bahasa daerah yang berdaya saing.

Dalam sambutannya pukul 09.21 WIB, Dr. Haris Santosa, M.Pd., mewakili UPI menekankan bahwa pendirian prodi bahasa daerah bukan hanya langkah akademik, tetapi juga bentuk tanggung jawab budaya dan sosial. Ia mengapresiasi inisiatif UNG untuk berani membuka ruang baru dalam pelestarian bahasa lokal melalui jalur pendidikan formal.

Sementara itu, pada pukul 09.10 WIB, Prof. Dr. Sulaeman Bouti, S.Pd., M.Hum., sebagai perwakilan UNG menyampaikan maksud dan tujuan benchmarking. Ia menegaskan bahwa hingga kini UNG belum memiliki program studi yang secara khusus mengkaji dan mengembangkan bahasa daerah. Menurutnya, pendirian Prodi Bahasa Daerah Gorontalo sangat penting untuk menjawab tantangan pelestarian bahasa lokal sekaligus memperkuat identitas kultural masyarakat setempat.

Diskusi berlanjut pada pukul 09.28 WIB melalui sesi wawancara mendalam. Salah satu fokus pembahasan adalah strategi awal membangun prodi melalui penelitian komparatif antara bahasa Gorontalo dan bahasa Sunda. Pendekatan ini dipandang penting agar UNG memiliki fondasi akademik yang kuat sebelum mengajukan pembukaan prodi kepada kementerian terkait.

Rencana pendirian prodi ini disambut positif karena akan menjadi yang pertama di Gorontalo yang secara khusus menangani bahasa daerah. Kehadiran prodi tersebut diharapkan mampu membuka peluang besar bagi generasi muda Gorontalo untuk belajar, meneliti, sekaligus melestarikan bahasa ibu mereka melalui jalur pendidikan formal.

Selain itu, prodi ini juga dipandang mampu memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal. Dalam konteks lebih luas, kehadiran Prodi Pendidikan Bahasa Daerah UNG akan menjadi kontribusi nyata bagi upaya nasional menjaga keberagaman linguistik Indonesia yang menghadapi ancaman pergeseran bahasa akibat globalisasi.

Kegiatan benchmarking UNG di UPI menjadi momentum penting, bukan hanya sebagai ajang pertukaran pengetahuan tetapi juga sebagai pijakan awal berdirinya prodi yang dinantikan. Harapannya, prodi tersebut dapat segera terwujud dan berkontribusi dalam menjaga identitas linguistik dan kebudayaan Gorontalo di masa depan.

Upaya ini sejalan dengan SDGs, khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama target 11.4 yang menekankan perlindungan warisan budaya. Dengan begitu, pelestarian bahasa daerah diposisikan bukan hanya sebagai ranah akademik, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang menjaga keberagaman bangsa.