Lebih dari 20 guru Bahasa Sunda yang tergabung dalam MGMP Bahasa Sunda Kabupaten Bandung Barat mengikuti Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Populer di SMAN 1 Cisarua (29–31 Oktober 2025). Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif bagi para guru untuk mengasah kemampuan menulis karya ilmiah populer yang berpijak pada budaya lokal, berorientasi pada kepedulian lingkungan, serta beradaptasi dengan transformasi digital dalam pembelajaran dan literasi.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA yang didanai oleh Kemendiktisaintek tahun anggaran 2025 bertema “Pemberdayaan Guru Bahasa Sunda dalam Menulis Ilmiah Populer untuk Meningkatkan Literasi Budaya dan Edukasi Lingkungan.” Program ini digagas oleh dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai wujud nyata kontribusi kampus dalam memperkuat literasi budaya guru serta menumbuhkan kesadaran ekopedagogi di tengah perubahan digital yang kian pesat.
Tim pelaksana PkM diketuai oleh Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Dwi Alia, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Isah Cahyani, M.Pd., serta melibatkan dua mahasiswa, Febri Herdiyanti dan Siti Humaira Ramadhani Dakir. Kegiatan ini juga bermitra dengan MGMP Bahasa Sunda Kabupaten Bandung Barat di bawah kepemimpinan Hidayat Kusdinar, S.Pd., yang berperan aktif dalam koordinasi peserta dan fasilitasi kegiatan lapangan.
Menurut Dr. Haris Santosa Nugraha, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap rendahnya kebiasaan menulis di kalangan guru, padahal mereka memiliki banyak pengalaman dan gagasan yang berpotensi menjadi bahan tulisan bermutu.
“Guru Bahasa Sunda punya kekayaan narasi budaya yang luar biasa. Kami ingin membekali mereka dengan keterampilan menulis ilmiah populer agar mampu menyalurkan gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai kearifan lokal melalui media yang bisa menjangkau masyarakat luas,” ujarnya.
Pelaksanaan PkM ini dirancang melalui tiga tahapan utama yang saling terintegrasi antara kegiatan daring dan luring. Tahap pertama diawali dengan sosialisasi program secara daring untuk menyampaikan tujuan, alur pelaksanaan, serta pemetaan kompetensi awal peserta melalui pre-test. Langkah ini membantu mengidentifikasi kebutuhan dan kemampuan guru agar pelatihan berjalan lebih terarah dan sesuai konteks.
Tahap kedua menjadi inti kegiatan, yakni pelatihan dan penerapan teknologi yang dilaksanakan secara luring di SMAN 1 Cisarua. Peserta memperoleh materi tentang konsep penulisan ilmiah populer, teknik pengembangan ide berbasis literasi budaya dan edukasi lingkungan, serta praktik menulis berbasis pengalaman lapangan. Mereka juga belajar memanfaatkan teknologi digital seperti SundaDigi, KBBI daring, dan platform kecerdasan buatan (AI) untuk riset, penyuntingan, serta eksplorasi data visual.
Pelatihan ini mengedepankan pendekatan praktis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Para peserta tidak hanya menulis, tetapi juga berlatih mengintegrasikan teknologi ke dalam proses kreatif dengan memanfaatkan kamera 360°, microphone wireless, dan perangkat digital lainnya untuk mendokumentasikan fenomena budaya dan lingkungan secara lebih utuh. Inovasi ini membuka cara pandang baru dalam menulis karya ilmiah populer yang lebih kontekstual, reflektif, dan inspiratif.
Pada hari pertama pelatihan luring, peserta mendapatkan materi dasar mengenai konsep dan teknik menulis karya ilmiah populer dari Dr. R. Dian Hendrayana, S.S., M.Pd., dosen UPI sekaligus redaktur Majalah Mangle. Ia menekankan bahwa menulis ilmiah populer bukan sekadar menyampaikan data atau fakta, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan pembaca melalui bahasa yang ringan, jernih, dan bermakna.
“Tulisan yang baik bukan hanya benar secara isi, tetapi juga menggerakkan pembaca. Guru Bahasa Sunda punya kekuatan itu karena mereka hidup bersama nilai-nilai budaya yang kaya dan inspiratif,” ungkapnya.
Setelah sesi materi, peserta melakukan observasi lapangan untuk mengumpulkan bahan tulisan berbasis fenomena budaya dan lingkungan. Dengan memanfaatkan kamera 360°, mereka mendokumentasikan data secara lebih luas dan mendalam, memperkaya perspektif dan kedalaman narasi tulisan mereka.
Kegiatan berlanjut dengan sesi review naskah yang difasilitasi oleh para narasumber dan tim PkM. Peserta menerima umpan balik terkait struktur penulisan, alur gagasan, serta penggunaan bahasa agar tulisan lebih komunikatif dan layak dipublikasikan. Beberapa karya bahkan dinilai sudah siap terbit di media massa.
Tahap ketiga merupakan refleksi dan evaluasi yang kembali dilaksanakan secara daring. Peserta mengumpulkan hasil tulisannya untuk difinalisasi bersama narasumber dan tim PkM dengan fokus pada penyempurnaan isi, struktur, dan gaya bahasa agar setiap karya siap dipublikasikan di media lokal maupun nasional.
Ketua MGMP Bahasa Sunda Kabupaten Bandung Barat, Hidayat Kusdinar, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama yang terjalin antara UPI dan para guru Bahasa Sunda.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Guru menjadi lebih percaya diri menulis dan berani mengirimkan tulisannya ke media. Kami berharap kerja sama seperti ini bisa terus berlanjut agar budaya literasi di kalangan guru semakin tumbuh,” ujarnya.
Para peserta mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya memahami teori penulisan ilmiah populer, tetapi juga mendapatkan pendampingan hingga tahap publikasi. Salah satu peserta, Tiya Komalasari, S.Pd., menuturkan,
“Menulis kini terasa lebih dekat. Setiap pengalaman di kelas bisa menjadi cerita yang bermakna bagi banyak orang.”
Program ini menjadi bukti nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin 4 (Quality Education), 11 (Sustainable Cities and Communities), dan 13 (Climate Action). Sejalan dengan itu, kegiatan ini turut memperkuat komitmen UPI dalam membangun budaya yang kuat, lingkungan yang berkelanjutan, serta transformasi digital yang humanis.
Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi pelopor dalam membangun ekosistem literasi yang berakar pada budaya lokal, berwawasan lingkungan, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi di era digital.
Kontributor: Siti Humaira Ramadhani Dakir