BEM KEMABA FPBS UPI Selenggarakan Daurah Asāsiyyah al-Tsāniyah 2025 sebagai Penguatan Kaderisasi Mahasiswa Baru

13 Oktober 2025

BEM KEMABA FPBS UPI Selenggarakan Daurah Asāsiyyah al-Tsāniyah 2025
BEM KEMABA FPBS UPI Selenggarakan Daurah Asāsiyyah al-Tsāniyah 2025

Bandung, 11–13 Oktober 2025 - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Bahasa Arab (BEM KEMABA) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia kembali menyelenggarakan kegiatan kaderisasi yaitu Daurah Asāsiyyah al-Tsāniyah.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam proses pembinaan kader mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UPI.


Pematerian dan Penguatan Kepemimpinan

Salah satu rangkaian kegiatan Daurah Asāsiyyah adalah sesi pematerian yang menghadirkan berbagai narasumber inspiratif.
Pematerian pertama disampaikan oleh Ahmad Juliar Fahri, S.Pd. dengan tema “Kepemimpinan dan Manajemen Persidangan.”

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa seorang pemimpin memiliki peran penting sebagai pengarah, pengambil keputusan, sekaligus pemberi motivasi bagi anggotanya. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya bakat bawaan, melainkan dapat dibentuk melalui pengalaman dan proses pembelajaran. Selain itu, beliau juga menyinggung pentingnya efektivitas organisasi melalui konsep P.O.A.C.E (Planning, Organizing, Action, Controlling, Evaluation) serta menjelaskan dasar-dasar manajemen persidangan, mulai dari jenis sidang, peran presidium, hingga aturan ketukan palu dan mekanisme interupsi.


Diskusi Sosial dan FGD

Selanjutnya, pematerian kedua dibawakan oleh Presiden Mahasiswa BEM REMA UPI, Abu Rosyid Al Ghifari, yang membahas “Problematika Sosial Masyarakat.”
Beliau menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk peka terhadap isu sosial dan turut berkontribusi memperjuangkan keadilan serta kesejahteraan masyarakat.

Sesi ini dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD), di mana para mahasiswa baru dibagi menjadi empat kelompok yang kemudian terbagi lagi menjadi dua kubu: pro dan kontra terhadap mosi “Program MBG seharusnya dijalankan meski ada risiko keamanan pangan.”
Suasana FGD berlangsung antusias dan penuh semangat. Para peserta berupaya menyampaikan argumen secara logis dan kritis, melatih kemampuan berpikir, berkomunikasi, serta menghargai perbedaan pendapat dalam tim.


Materi Advokasi dan Pergerakan Mahasiswa

Pada sesi ketiga, kegiatan menghadirkan dua pemateri, yaitu Zaki Abdurrahman Syauqi dengan tema “Manajemen Advokasi” dan Raqie Malik Syah dengan tema “Urgensi Pergerakan Mahasiswa.”

Dalam pemaparannya, Zaki menjelaskan bahwa advokasi merupakan bentuk tindakan pembelaan, dukungan, atau rekomendasi aktif terhadap suatu hal yang dirasakan tidak adil.
Ia menekankan bahwa advokasi bukan hanya tentang menentang, tetapi juga membangun kesadaran untuk melakukan perubahan secara elegan dan terukur.

“Pembelaan itu harus tepat sasaran dan sesuai target. Jangan sampai salah langkah dalam alur birokrasinya,” ujarnya.

Beliau juga menjelaskan tahapan kerja advokasi:

  1. Memahami isi dan konteks kebijakan.
  2. Mempelajari konsekuensi kebijakan terhadap masyarakat.
  3. Mengenali aktor-aktor utama dan kepentingan di baliknya.
  4. Menentukan jaringan formal maupun informal dalam proses kebijakan.

Tujuan advokasi, lanjutnya, adalah mendorong perubahan terhadap kondisi yang belum ideal serta mengawasi pelaksanaan kebijakan agar memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia menegaskan pentingnya mahasiswa untuk tidak bersikap apatis terhadap isu sosial.

“Minimal, kita sudah memenuhi kewajiban kita sebagai mahasiswa yang peduli,” tegasnya.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Raqie Malik Syah, yang membahas urgensi pergerakan mahasiswa. Ia menelusuri sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia mulai dari Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), hingga masa kemerdekaan.
Menurutnya, gerakan mahasiswa merupakan bentuk keberpihakan terhadap rakyat untuk melawan ketidakadilan dan kezaliman oligarki.

Ia mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib:

“Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Melalui kutipan tersebut, ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak diam terhadap ketidakadilan, tetapi aktif memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Ia juga menyoroti tantangan dan peluang gerakan mahasiswa di era digital, di mana internet kini menjadi ruang baru perjuangan gagasan.

“Rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu tujuh jam lebih di internet setiap hari. Ini bisa jadi ancaman, tapi juga peluang besar bagi gerakan mahasiswa untuk menciptakan perubahan,” tuturnya.


Sidang dan Pemilihan Ketua Angkatan

Setelah rangkaian pematerian selesai, kegiatan berlanjut ke Sidang Pemilihan Ketua Angkatan PBA 2025.
SC DA 2024 secara resmi menyerahkan palu sidang kepada SC DA 2025 sebagai presidium sidang. Sidang dibuka dengan pembacaan agenda acara, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib yang dilakukan secara mufakat melalui mekanisme interupsi dan saran dari masing-masing fraksi.

Sidang kemudian berlanjut ke Pleno II, yang membahas tata tertib pencalonan dan pemilihan presidium tetap. Setelah melalui proses pertimbangan dan pengesahan, terpilihlah:

  • Fisilmi Muska Mustaqim sebagai Presidium 1,
  • Muhammad Haikal Dimyati sebagai Presidium 2,
  • Muhammad Abiyyu sebagai Presidium 3.

Setelah penetapan presidium baru secara resmi melalui ketukan palu sidang dan serah terima tanggung jawab, sidang dilanjutkan ke tahap pencalonan dan pemilihan Ketua Angkatan. Proses berlangsung secara tertib dan demokratis, diiringi penyampaian visi dan misi dari para calon serta sesi tanya jawab dari peserta sidang.
Sidang pemilihan Ketua Angkatan PBA 2025 berlangsung hingga 13 Oktober 2025 dan menetapkan Muhammad Fadlan Abdurrazaq sebagai Ketua Angkatan PBA UPI 2025.