Bandung, UPI – Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI menggelar kuliah bersama pakar bertema “HOTS dalam Rekonstruksi Legenda untuk Menguatkan Literasi Bencana” pada Selasa, 22 Juli 2025. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sri Setyarini, M.A., App. Ling., yang akrab disapa Prof. Rini. Beliau merupakan pakar linguistik dan sastra dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, UPI.
Bertempat di ruang kuliah 01 Lt. 02, kegiatan dimulai pukul 08.40 hingga 10.20 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa yang mengontrak mata kuliah Sastra Anak yang diampu oleh Dr. Yostiani N. A. Harini, M.Hum. Menurut Dr. Yostiani, kegiatan ini penting dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya berpikir kritis dalam menyampaikan ide melalui karya sastra, sekaligus menanamkan nilai literasi bencana melalui cerita-cerita legenda yang direkonstruksi secara kreatif.
“Sastra itu hidup, indah, dan penuh ekspresi. Dari sastra, kita bisa menyampaikan kegelisahan, rasa bosan, bahkan keinginan untuk berubah,” ujar Prof. Rini.
Beliau juga menambahkan bahwa sastra merupakan sarana untuk memantik Higher Order Thinking Skills (HOTS), khususnya dalam hal analisis (C4), evaluasi (C5), dan kreasi (C6).
Dalam paparannya, Prof. Rini mengaitkan sastra dengan kehidupan sehari-hari secara sederhana namun bermakna. Salah satu contohnya: “Kenapa bala-bala itu dinamai bala-bala? Karena bentuknya bulat di depan seperti bala-bala.” Ujaran ini mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap bahasa dan makna di baliknya.
“Orang HOTS bukan hanya memilih, tapi bisa menjelaskan alasan dari pilihannya,” tambahnya.
Prof. Rini juga mencontohkan bagaimana legenda-legenda seperti Sangkuriang dan Rawa Pening dapat digunakan untuk membangun kesadaran literasi bencana.
“Dari cerita rakyat, kita bisa memahami sebab-akibat bencana, dan menyadari pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan.”
Lebih jauh, Prof. Rini menekankan bahwa literasi tidak cukup hanya dengan membaca teks, tetapi juga harus disertai kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
“Cerita itu bukan sekadar dongeng. Ia harus punya arah, tujuan, dan mampu menggerakkan pembaca untuk berpikir dan merasa.”
Kegiatan ini diharapkan menggugah dan menguatkan literasi bencana melalui rekonstruksi legenda. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan memproduksi sastra anak sebagai media edukatif yang kritis, kreatif, dan kontekstual.
(Putri Naufal Nurotul Zannah & Dr. Yostiani Noor Asmi Harini, M.Hum.)