Menulis sebagai Self-Healing bagi Ibu Rumah Tangga: Kolaborasi UPI, KSDS Jabar, dan Komunitas Akar Indonesia di Yogyakarta

14 Agustus 2025

Pelatihan menulis sebagai self-healing di Yogyakarta
Pelatihan menulis sebagai self-healing di Yogyakarta

Yogyakarta, 14 Agustus 2025 – Menulis dapat menjadi sarana penyembuhan diri (self-healing) yang sederhana, murah, dan efektif. Melalui aktivitas menulis, seseorang dapat meredakan stres, mengurangi beban mental, sekaligus menyalurkan emosi menjadi karya kreatif yang produktif. Hal ini terungkap dalam kegiatan “Pelatihan Penulisan Kreatif sebagai Sarana Self-Healing bagi Ibu Rumah Tangga: dari Terapi ke Puisi” yang digelar di Pendopo Komunitas Akar Indonesia, Sleman, Yogyakarta, Kamis (14/8).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi oleh Tim PKM Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bekerja sama dengan Komunitas Sastra Dewi Sartika (KSDS) Jawa Barat dan Komunitas Akar Indonesia Yogyakarta.

Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di Bandung pada 5 Juli 2025. Ke depan, PKM ini akan melibatkan kelompok penulis dari Korea Selatan, Changjak 21, dan menghasilkan buku Antologi Puisi Tiga Kota: Bandung, Yogyakarta, dan Seoul yang rencananya diluncurkan pada November 2025.

Menurut Nenden Lilis Aisyah, Ketua Tim PKM sekaligus dosen dan sastrawan, gagasan program ini berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan psikologis yang dihadapi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, di era digital dan industrialisasi 5.0. Stres, tekanan mental, depresi, hingga kekerasan dalam rumah tangga sering menjadi beban ganda yang dialami perempuan. “Melalui menulis, curahan hati tidak berhenti sebagai keluh kesah semata, tetapi dapat diolah menjadi karya yang produktif dan bernilai positif,” ujarnya.

Selain sebagai media ekspresi, menulis juga diyakini membawa manfaat fisik. “Menulis dengan pena dapat menyehatkan jantung, merangsang hormon endorfin, serta mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan,” tambah Nenden.

Peserta pelatihan yang mayoritas ibu rumah tangga dari berbagai latar profesi tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Ketua Pelaksana, Yostiani Noor Asmi Harini, menegaskan bahwa kegiatan ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek kesetaraan gender dan kesehatan mental.

Acara dibuka dengan penampilan unik dari Komunitas Sastra Dewi Sartika yang membawakan lagu “Pagi Ceria” ciptaan Katherina Achmad, menggunakan iringan musik dari peralatan dapur sehari-hari. Kemeriahan berlanjut dengan pemaparan materi oleh para narasumber, yakni Nenden Lilis Aisyah (UPI), Joni Ariadinata (Komunitas Akar Indonesia), dan Yopi Setia Umbara (Buruan.co), serta dipandu oleh moderator Memen Durachman.

Joni Ariadinata menekankan pentingnya kebebasan berekspresi tanpa terikat teori, dengan mencontohkan kisah seorang ibu rumah tangga yang berhasil menjadi sastrawan melalui pengalaman kesehariannya. Sementara itu, Yopi berbagi proses kreatif dalam menulis puisi secara teknis.

Sesi ini diperkuat oleh sharing session dari para penulis KSDS sekaligus tutor, yaitu Eriyanti Nurmala Dewi, Heni Hendrayani, Katherina Achmad, Nuning Damayanti, dan Shinta Kusumawati, yang membacakan puisi sekaligus menjelaskan proses kreatif mereka. Suasana pelatihan semakin hangat ketika peserta diajak berpartisipasi dalam musikalisasi puisi “Serenade” karya Tetet Cahyati. Puncaknya, para peserta mempraktikkan penulisan puisi sebagai sarana self-healing, lalu membacakannya di depan forum dengan penuh penghayatan.

Acara ditutup secara manis oleh Pembawa Acara Nevia Aufa Ramadiani. Kehadiran kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah yang berkelanjutan bagi ibu rumah tangga untuk menemukan kekuatan baru dalam diri melalui tulisan.

(Buyung Firmansyah)