Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Gelar Lokakarya Pengembangan Bahan Ajar BIPA Berbasis Teknologi

14 Agustus 2025

Lokakarya BIPA Berbasis Teknologi
Lokakarya BIPA Berbasis Teknologi

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia. Pada 1–14 Agustus 2025, Prodi melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa “Lokakarya Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Berbasis Teknologi”. Kegiatan berlangsung secara daring dan luring ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sinergi dua perguruan tinggi besar tersebut menghasilkan sebuah program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan zaman, khususnya dalam menjawab tantangan pembelajaran BIPA di era digital.

Menurut ketua pelaksana, lokakarya ini bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan kompetensi pendidik BIPA dalam mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi digital.
  2. Mendorong kreativitas dan inovasi dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing.
  3. Memperluas jejaring akademik antara UPI, UNY, dan lembaga penyelenggara BIPA di Indonesia.

“Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung mengembangkan bahan ajar yang siap diimplementasikan. Dengan begitu, hasilnya lebih aplikatif dan bermanfaat bagi pembelajaran BIPA,” ungkap salah satu narasumber dari UNY.

Lokakarya ini terbagi dalam dua tahap. Sesi daring (1–10 Agustus 2025) berisi kuliah umum, diskusi panel, serta praktik pengembangan bahan ajar berbasis teknologi dengan bimbingan dosen dan praktisi BIPA. Materi yang disampaikan mencakup pemanfaatan media digital, aplikasi interaktif, dan strategi pembelajaran inovatif untuk pembelajar asing.

Bahasa Indonesia kini semakin diperhitungkan di kancah internasional. Dengan statusnya sebagai bahasa resmi ASEAN dan jumlah penutur yang terus meningkat, kebutuhan akan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) semakin tinggi. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, penyusunan bahan ajar BIPA tingkat dasar sangat diperlukan.

Karakteristik Bahan Ajar BIPA Dasar:

  1. Sederhana dan komunikatif – menggunakan kosakata frekuensi tinggi, kalimat pendek, dan pola bahasa dasar.
  2. Kontekstual dan visual – dilengkapi ilustrasi atau media digital agar lebih mudah dipahami.
  3. Integratif – menggabungkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
  4. Berbasis budaya – memperkenalkan ungkapan sopan santun, salam, dan kebiasaan lokal.
  5. Bertahap – dari kata → frasa → kalimat → teks sederhana.

Dalam praktiknya, pengajaran BIPA dasar menghadapi tantangan: perbedaan latar belakang bahasa ibu, motivasi belajar beragam, serta keterbatasan media pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam penulisan bahan ajar, khususnya penggunaan teknologi digital (aplikasi, e-learning, media interaktif), integrasi konten budaya lokal, dan penyusunan bahan ajar multimodal dengan teks, gambar, audio, serta video.

Selain itu, sesi luring (14 Agustus 2025) di Universitas Negeri Yogyakarta melibatkan praktik intensif, workshop langsung, serta presentasi prototipe bahan ajar digital.

Dengan berakhirnya lokakarya, para peserta berhasil menghasilkan rancangan bahan ajar BIPA berbasis teknologi yang inovatif. Produk ini diharapkan dapat diterapkan di kelas internasional sehingga pembelajar asing lebih mudah memahami Bahasa Indonesia melalui pendekatan digital.

Kegiatan ini juga menjadi langkah konkret dalam mendukung program internasionalisasi Bahasa Indonesia yang tengah digencarkan pemerintah. Bahasa Indonesia diposisikan bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai identitas budaya yang dapat diperkenalkan ke dunia melalui media digital.

Lokakarya ini menegaskan peran strategis Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPI, dan UNY dalam pengembangan kualitas pendidikan bahasa. Dengan dukungan teknologi, pengajaran BIPA diharapkan semakin adaptif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan globalisasi.

(Isah Cahyani)