"Tanpa Budaya, Kehilangan Jati Diri" - Pesan Prof. Moriyama untuk Mahasiswa Sunda UPI

10 Februari 2026

"Tanpa Budaya, Kehilangan Jati Diri" - Pesan Prof. Moriyama untuk Mahasiswa Sunda UPI
"Tanpa Budaya, Kehilangan Jati Diri" - Pesan Prof. Moriyama untuk Mahasiswa Sunda UPI

Bandung, WPs. - Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda (PBS), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama sebagai pemateri dalam mata kuliah Sejarah Sunda pada 10 Februari 2026. Perkuliahan yang diampu oleh Dr. Ruhaliah, M.Hum. tersebut diikuti oleh sekitar 60 mahasiswa PBS dan berlangsung secara interaktif.

“Bagi orang Sunda, Tatar Sunda adalah sebuah pijakan. Jika budaya Sunda hilang, tidak akan ada lagi yang memandang budaya Sunda. Tanpa budaya, suatu masyarakat akan kehilangan pijakan nilai dan jati dirinya,” tegas Prof. Mikihiro Moriyama dalam perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa program sarjana (S1) dan magister (S2). Dalam kesempatan tersebut, pakar kajian sastra dan budaya Sunda yang menempuh pendidikan di Nanzan University, Nagoya, Jepang itu mengangkat enam pokok bahasan mengenai pentingnya kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Sunda, sekaligus menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi utama bagi identitas orang Sunda.

Dalam paparannya, Mikihiro mengungkapkan ketertarikannya mendalami bahasa Sunda tidak terlepas dari pengaruh tokoh budayawan Sunda, Ajip Rosidi. Menurutnya, Ajip Rosidi menjadi figur penting yang mendorongnya untuk mendalami khazanah kesundaan secara serius. “Salah satu alasan saya menekuni bahasa Sunda adalah adanya dorongan dan pengaruh dari Ajip Rosidi,” tutur Prof. Moriyama di hadapan mahasiswa.

Kegiatan perkuliahan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs) poin 17, yakni Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas institusi. Melalui kegiatan ini, UPI menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang mengusung visi Leading and Outstanding dengan membuka ruang kerja sama akademik bersama tokoh dan institusi luar negeri. Bersama kegiatan ini, UPI membuka ruang kolaboratif untuk memperkuat pengembangan akademik dan pelestarian budaya.

Dalam materi yang disampaikannya, Prof. Moriyama mengangkat enam pokok bahasan terkait pentingnya kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Sunda. Ia menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi utama bagi identitas orang Sunda. Tanpa budaya, menurutnya, suatu masyarakat akan kehilangan pijakan nilai dan jati dirinya. “Bagi orang Sunda, Tatar Sunda adalah pijakannya. Jika budaya Sunda hilang, tidak akan ada lagi yang memandang budaya Sunda,” tegasnya.

Kekhawatiran Prof. Moriyama terhadap potensi hilangnya budaya Sunda menjadi refleksi penting bagi mahasiswa. Ia menilai bahwa generasi muda, terutama mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda, memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menjaga, mencintai, serta melestarikan bahasa dan budaya Sunda agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Perkuliahan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk melihat budaya Sunda dari perspektif akademisi internasional. Kehadiran Prof. Moriyama juga menunjukkan bahwa bahasa dan budaya Sunda memiliki daya tarik global serta layak untuk terus dikaji dan dikembangkan dalam ranah akademik internasional. (Hilal Adha, Dian Hendrayana)