Kegiatan KEMSAP 2026 KPLH Pancaksuji di Gunung Sembung Artapela
Kegiatan KEMSAP 2026 KPLH Pancaksuji di Gunung Sembung Artapela

BANDUNG, WPs. - Komunitas Pecinta Lingkungan Hidup (KPLH) Pancaksuji BEM Hima Pensatrada sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademis dan alam terbuka bertajuk KEMSAP “Kémah Sapeuting” 2026. Sebagai persiapan sebelum bertolak ke lapangan, panitia menggelar sesi pematerian intensif mengenai “Etika Sunda dan Kelangsungan Hidup di Alam Bebas (Survival)” pada Jumat, 5 Juni 2026. Acara pembekalan yang bertempat di Ruang Budaya ini dilanjutkan dengan agenda pengarahan teknis (briefing), pembagian kelompok, serta simulasi penataan perlengkapan (packing) logistik.

Sesi pematerian krusial ini menghadirkan Guru Besar Pendidikan Bahasa Sunda UPI, Prof. Retty Isnendes, S.Pd., M.Pd. (Téh Hanjuang), sebagai narasumber utama. Jalannya diskusi dipandu secara dinamis oleh Aghisni Kamilatul Huda (Téh Ingwang), mahasiswi PBS angkatan 2024 yang bertindak sebagai moderator. Dalam paparannya yang interaktif, Prof. Retty Isnendes mengupas esensi dari nilai tradisi sebagai fondasi utama seorang pecinta alam. “Menjelajahi gunung dan hutan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah proses berbudaya yang menuntut penerapan etika hutan serta prinsip dasar yang luhur,” tegas Prof. Retty. Melalui pernyataan tersebut, beliau menekankan bahwa kegiatan di alam terbuka harus selalu berpijak pada nilai-nilai kesantunan tradisi dan keluhuran budi pekerti.

“Prinsip utama kita di alam adalah menghormati alam dan wajib menghormati warga setempat. Ketika kita melangkah ke gunung, kita adalah tamu,” jelas Prof. Retty. Beliau memaparkan lima prinsip dasar yang wajib dipegang teguh, yaitu menghormati alam, dilarang meninggalkan jejak kerusakan, menghormati sesama pendaki atau pengembara, serta komitmen penuh dalam menjaga sumber air dan mengendalikan penggunaan api. Semua ini bermuara pada Sapta Etika Pecinta Alam yang menempatkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta.

Lebih lanjut, beliau juga memberikan wejangan praktis mengenai etika saat berkemah dan interaksi terhadap satwa liar. “Saat mendirikan tenda, pilihlah area yang memang sudah disediakan, jangan membuka lahan baru. Jagalah kebersihan, dilarang merusak tanaman, tetap menghargai privasi kelompok lain, serta dilarang membuat kegaduhan yang bisa mengganggu ketenteraman alam,” tambahnya. Terhadap satwa liar yang ditemui, beliau mengingatkan peserta untuk tidak memberi makanan, tidak mengejar, dan tidak membuat suara yang menakutkan mereka. Sebagai penutup materi bertahan hidup (survival), Prof. Retty menjelaskan bahwa ketika logistik habis di tengah hutan, tumbuhan liar bisa menjadi penyelamat, namun mahasiswa harus dibekali pengetahuan matang untuk membedakan mana tumbuhan yang aman dikonsumsi dan mana yang beracun.

Setelah seluruh pembekalan teoretis dan teknis yang padat nilai tersebut rampung, para peserta pada keesokan harinya langsung pergi ke Gunung Sembung Artapela untuk merealisasikan ilmu mereka melalui petualangan nyata pada Sabtu hingga Ahad, 6-7 Juni 2026. Rombongan warga Hima Pensatrada bertolak sejak pagi menuju kawasan Puncak Sulibra, Gunung Sembung Artapela via Cirawa. Di sana, para peserta mengikuti serangkaian aktivitas luar ruangan yang interaktif, mulai dari mendaki jalur gunung (hiking), makan bersama (botram), hingga ruang cengkrama untuk merekatkan persaudaraan antaranggota.

Foto bersama peserta setelah sesi pematerian KEMSAP 2026

Pelaksanaan kegiatan KEMSAP 2026 ini dinilai sangat relevan dengan upaya pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada poin SDGs Nomor 4 mengenai Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui metode pembelajaran karakter nonformal di luar kelas, serta poin SDGs Nomor 15 mengenai Ekosistem Daratan (Life on Land) melalui penumbuhan kesadaran generasi muda untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem pegunungan lokal.

Melalui kesuksesan agenda tahunan ini, KPLH Pancaksuji berhasil membuktikan eksistensinya dalam membentuk kader pecinta alam yang cerdas, beretika, dan tangguh. Esensi kebermanfaatan acara ini pun diakui langsung oleh Solihat, mahasiswi PBS angkatan 2025 yang baru pertama kali mengikuti kegiatan berkemah ke gunung. “Pemateriannya, buat aku yang enggak tahu dan pertama kali ikut camping kayak gini ke gunung jadi lebih tahu lagi ilmunya. Ini sangat bermanfaat buat aku, karena kita enggak tahu nanti ke depannya bakal mengalami kayak gini atau enggak, jadi bisa sebagai pengetahuan tambahan,” ungkapnya dengan penuh kesan.

Ungkapan testimoni positif tersebut menjadi penutup yang manis, sekaligus membuktikan bahwa semangat kebersamaan yang berlandaskan motto seia sekata, sehaluan, dan senasib sepenanggungan telah sukses ditanamkan oleh seluruh jajaran panitia pelaksana demi menjaga kelestarian budaya dan lingkungan di masa depan.

Kontributor: Haidar Ali Dzulfikar, Dian Hendrayana