Peluncuran dan apresiasi novel Sunda Puspawana Puspagiri
Peluncuran dan apresiasi novel Sunda Puspawana Puspagiri

Bandung, WPs. - Kegiatan peluncuran dan apresiasi novel Sunda bertajuk Puspawana Puspagiri karya sastrawati terkemuka, Chyé Rétty Isnéndés, sukses dilaksanakan pada Kamis, 11 Juni 2026. Acara yang bernilai budaya tinggi ini diselenggarakan secara khidmat di Gedung Auditorium B FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menjadi tonggak penting bagi pelestarian karya sastra lokal.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Haris Santosa Nugraha, yang menyampaikan, “Alhamdulillah hari ini bisa berlangsung kegiatan peluncuran dan apresiasi novel Sunda ‘Puspawana Puspagiri’. Kegiatan ini adalah bentuk kerja sama antara prodi pendidikan bahasa sunda S1 juga prodi pendidikan bahasa dan budaya sunda S2 FPBS UPI dengan Paguyuban Sastrawati Sunda (PATREM), dan didukung oleh para mitra yang kurang lebih ada 30 lembaga, terima kasih.” Beliau memberikan penegasan bahwa keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan penuh puluhan mitra tersebut.

“Kita tahu karya karya Chyé Rétty yang terkait dengan berdirinya PATREM dari tahun 1982, sudah menghasilkan yang bukan hanya karya, tapi para sastrawati yang memberikan kontribusi besar terhadap sastra sunda,” ungkap Ganjar Kurnia, Pembina PATREM saat memberikan pandangan mendalam mengenai rekam jejak kepenulisan Prof. Rétty. Terkait dengan regenerasi dari awal sampai saat ini, ia menegaskan bahwa karya-karya tersebut terus hidup, di mana “ada yang dicetak, ada yang dikirimkan melalui majalah manglé.”

Rangkaian acara peluncuran buku ini berjalan dengan sangat lancar dan dinamis. Agenda tersebut diawali dengan penyampaian sambutan beruntun dari para tokoh penting, mulai dari Kaprodi Pendidikan Bahasa Sunda Dr. Haris Santosa Nugraha, Pembina PATREM Ganjar Kurnia, Wakil Dekan FPBS Yulianeta, hingga Direktur Pustaka Jaya Rachmat Taufiq. Setelah sesi sambutan formal usai, suasana auditorium semakin hidup melalui penampilan seni yang memukau. Para mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda UPI menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Tangara Bulan” serta aksi dramatisasi yang apik dari sempalan novel Puspawana Puspagiri.

Sesi apresiasi kian berbobot dengan masukan dari berbagai tokoh lintas disiplin. “Keindahannya bukan dari novelnya, tp dari apresiasi kita menghargai novel ini, yang seakan akan membuat kita bernicara kepda puspa puspa,” ucap Iwan Abdurahman, anggota PA WANADRI. Selain itu, pandangan mendalam mengenai karya ini turut dipaparkan oleh para tokoh pemerhati lingkungan, yakni Dewan Pendiri PA Jantera ‘77 T. Bachtiar dan Sekjen DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) Taufan Suranto.

Keterlibatan para tokoh lingkungan dan muatan ekologis dalam novel Puspawana Puspagiri ini sekaligus menegaskan kontribusi nyata dunia sastra terhadap capaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Khususnya pada poin SDGs Nomor 15 mengenai ekosistem daratan (Life on Land) melalui ajakan menjaga kelestarian hutan Tatar Sunda, serta poin SDGs Nomor 4 mengenai pendidikan berkualitas (Quality Education) dan SDGs Nomor 5 tentang kesetaraan gender (Gender Equality) melalui penguatan peran aktif komunitas sastrawati perempuan dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

Apresiasi institusi juga ditegaskan oleh Wakil Dekan FPBS, Yulianeta, yang menyampaikan, “Saya atas nama pimpinan fakultas FPBS menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Chyé Rétty atas lahirnya karya sastra yang sangat berharga ini. Bapak ibu yang berbahagia, bagi kami di FPBS UPI hari ini bukan sekadar peluncuran, tetapi wujud keteladanan seorang sastrawati, guru besar, dan pendidik di FPBS.”

Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti penghujung acara saat sang penulis, Chyé Rétty Isnéndés, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Dengan penuh emosi, ia menuturkan, “Terima kasih atas dukungan dari semua pihak yang rela hadir dari banyak tempat yang jauh mulai dari Sukabumi, Bekasi, Banten dll. Demi menghadiri acara Loncing & Aprésiasi Novel Sunda Puspawana Puspagiri bahkan jika dikatakan saya bercucur air mata.” Ungkapan tulus tersebut menjadi penutup yang indah sekaligus menegaskan kebersamaan yang lekat sepanjang acara.

Kontributor: Haidar Ali Dzulfikar, Dian Hendrayana