BANGI, Malaysia, 13 Juli 2026 - Program Studi Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat internasional di Centre for Research in Language and Linguistics, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yang mempertemukan akademisi dari Indonesia dan Malaysia untuk mengeksplorasi pendekatan berbasis riset terhadap evaluasi buku ajar bahasa Arab.
Program yang mengusung tema “Evaluation of Arabic Language Teaching Materials Based on Didactical Design Research (DDR): A Study in Indonesia and Malaysia” ini berfokus pada penerapan Didactical Design Research (DDR) dan Anthropological Theory of the Didactic (ATD) dalam menelaah struktur dan landasan pedagogis bahan ajar bahasa Arab.
Program internasional tersebut dihadiri oleh lima dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UPI, akademisi dari Centre for Research in Language and Linguistics UKM, serta dosen bahasa Arab dari Faculty of Islamic Studies UKM.
Acara dimoderatori oleh Associate Professor Dr. Ashinida Aladdin dan secara resmi dibuka oleh Associate Professor Dr. Mohamed Zain bin Sulaiman. Pertemuan akademik ini menjadi ruang bagi para sarjana Indonesia dan Malaysia untuk bertukar pandangan mengenai tantangan terkini dalam pendidikan bahasa Arab serta kebutuhan akan metode yang lebih sistematis dalam mengevaluasi bahan ajar.
Sesi utama disampaikan oleh Professor Dr. Didi Suryadi, M.Ed., yang memaparkan kerangka kerja berjudul “Researching Didactical Design by Applying the Anthropological Theory of the Didactic (ATD).”
Dalam paparannya, Suryadi memperkenalkan ATD sebagai lensa teoretis untuk menelaah desain didaktik melampaui aspek teknis perencanaan pembelajaran. Kerangka ini mendorong peneliti untuk mengkaji bagaimana pengetahuan diorganisasikan, ditransformasikan, dan dipraktikkan dalam konteks pendidikan dan kelembagaan tertentu.
Pendekatan tersebut menempatkan bahan ajar dalam ekosistem didaktik yang lebih luas yang melibatkan pengetahuan, guru, peserta didik, dan institusi pendidikan. Dari sudut pandang ini, buku ajar bukan sekadar kumpulan topik dan latihan, tetapi juga merepresentasikan suatu organisasi pengetahuan dan praktik pembelajaran tertentu.
Kerangka tersebut menawarkan cara yang berbeda bagi peserta dalam menelaah buku ajar bahasa Arab. Alih-alih membatasi evaluasi pada cakupan materi, tampilan visual, atau susunan bab, peneliti didorong untuk menyelidiki struktur didaktik mendasar yang membentuk keterlibatan peserta didik dengan pengetahuan.
Melanjutkan diskusi teoretis tersebut, Dr. Asep Sopian, S.Pd., M.Ag., Ketua Program Sarjana dan Magister Pendidikan Bahasa Arab UPI, memimpin sesi praktis mengenai penerapan DDR melalui prakseologi dalam evaluasi buku ajar bahasa Arab di Indonesia.
Sopian menunjukkan bagaimana analisis prakseologis dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkaji empat komponen yang saling berkaitan: task (T), technique (τ), technology (θ), dan theory (Θ).
Peserta diajak untuk menelaah jenis-jenis tugas yang disajikan dalam buku ajar bahasa Arab dan mengidentifikasi teknik yang diharapkan dari peserta didik dalam menyelesaikannya. Analisis kemudian diarahkan pada penelusuran rasional atau penjelasan yang mendukung teknik tersebut serta landasan teoretis yang mendasari pengorganisasian pengetahuan.
Pendekatan ini, jelas Sopian, memungkinkan pendidik dan peneliti melampaui penilaian buku ajar yang konvensional. Sebuah tugas pembelajaran tidak hanya dinilai dari tingkat kesulitan atau relevansinya terhadap keterampilan berbahasa tertentu. Tugas itu juga dapat dianalisis dari segi bagaimana peserta didik diharapkan menyelesaikannya, mengapa teknik tertentu digunakan, dan tubuh pengetahuan apa yang menopang proses pembelajaran.
Demonstrasi praktis tersebut mendapat perhatian besar dari peserta dan memunculkan sesi tanya jawab yang aktif. Akademisi UKM mengajukan pertanyaan mengenai potensi penerapan prakseologi pada bahan ajar bahasa Arab yang digunakan di Malaysia, khususnya dalam konteks ketika bahasa Arab diajarkan sebagai bahasa asing atau bahasa tambahan.
Diskusi juga membahas hubungan antara ATD dan DDR, peran prakseologi sebagai alat analisis, serta tantangan yang terlibat dalam mengidentifikasi persoalan didaktik dalam buku ajar.
Pertukaran gagasan menjadi semakin dinamis ketika akademisi Indonesia dan Malaysia membandingkan pengalaman mereka dalam pendidikan bahasa Arab. Para peserta mendiskusikan perbedaan latar belakang peserta didik, struktur kurikulum, konteks kelembagaan, dan tujuan pembelajaran di kedua negara.
Meski terdapat perbedaan tersebut, forum ini menyoroti kepedulian bersama: perlunya mengembangkan bahan ajar bahasa Arab yang berlandaskan akademik, responsif terhadap kesulitan peserta didik, dan didukung oleh riset pendidikan yang sistematis.
Konteks Indonesia-Malaysia juga menawarkan potensi besar bagi riset komparatif. Buku ajar bahasa Arab yang digunakan di berbagai lembaga pendidikan dapat menghadirkan jenis tugas, teknik, dan struktur pengetahuan yang berbeda. Oleh karena itu, analisis prakseologis komparatif dapat membantu peneliti memetakan bagaimana pengetahuan bahasa Arab diorganisasikan dan diajarkan lintas institusi serta konteks nasional.
Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UPI, program pengabdian kepada masyarakat internasional ini mencerminkan komitmen yang lebih luas untuk mengintegrasikan temuan riset ke dalam keterlibatan akademik dan profesional.
Program ini juga menunjukkan bagaimana pengabdian kepada masyarakat internasional dapat melampaui kegiatan penjangkauan konvensional dan menjadi wadah pertukaran pengetahuan berbasis riset di antara para akademisi perguruan tinggi.
Pertemuan di UKM ini diharapkan membuka peluang lanjutan bagi riset bersama, studi komparatif buku ajar, publikasi akademik kolaboratif, serta pengembangan pendekatan inovatif dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia dan Malaysia.
Melalui integrasi DDR, ATD, dan analisis prakseologis, program ini menghadirkan perspektif yang kritis dan sistematis terhadap evaluasi buku ajar bahasa Arab. Yang lebih penting, kegiatan ini memperkuat dialog akademik antara sarjana Indonesia dan Malaysia yang berupaya meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan bahasa Arab.
Pertemuan di Bangi ini menjadi langkah lanjutan menuju kolaborasi akademik yang semakin erat antara UPI dan UKM, dengan riset, berbagi pengetahuan, dan inovasi pendidikan sebagai pusat keterlibatan mereka.