Kegiatan Saba Hima 2026 antara Hima Pensatrada dan Hima Pedia
Kegiatan Saba Hima 2026 antara Hima Pensatrada dan Hima Pedia

BANDUNG, WPs. - BEM Hima Pensatrada Subbidang Pengaderan dan Penalaran (Kalar) bersama Subbidang Humas dan Publikasi (Humpub) sukses menyelenggarakan kegiatan studi banding bertajuk “Saba Hima 2026” pada Minggu, 3 Mei 2026. Berkolaborasi dengan Hima Pedia (Himpunan Mahasiswa Multimedia), agenda tahunan ini digelar di Bandung guna mempererat hubungan antarmahasiswa dari dua rumpun keilmuan yang berbeda. Selain memperluas jejaring komunikasi, forum ini menjadi wadah dinamis untuk bertukar pengalaman keorganisasian melalui serangkaian sesi pematerian, permainan keakraban, hingga Focus Group Discussion (FGD) antarbidang.

“Saba Hima menjadi ruang silaturahmi dan berbagi wawasan antarmahasiswa agar organisasi dapat berkembang bersama,” ungkap Alya Yesa selaku Ketua Pelaksana dalam sambutan pembukanya. Di hadapan seluruh peserta, ia menyampaikan rasa syukur serta apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu untuk menyukseskan kolaborasi ini. Alya berharap agar ruang perjumpaan ini dapat terus menjadi sarana produktif dalam bertukar pengetahuan, mempererat tali kekeluargaan, serta memperkaya portofolio pengalaman kepemimpinan mahasiswa di lingkungan kampus.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Dosen Pembimbing Kemahasiswaan Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Dian Hendrayana, M.Pd. Beliau menegaskan bahwa mahasiswa masa kini perlu memiliki ruang adaptif untuk belajar tata kelola organisasi secara langsung dari lembaga lain. “Mahasiswa perlu memiliki ruang untuk belajar berorganisasi secara langsung dari organisasi lain agar mampu membangun komunikasi dan kerja sama yang baik,” paparnya. Menurut beliau, kegiatan lintas rumpun seperti ini tidak hanya memperluas wawasan teknis mengenai birokrasi sistem organisasi, melainkan juga efektif dalam membentuk karakter kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif.

Forum diskusi dalam kegiatan Saba Hima 2026

Lebih lanjut, Dr. Dian Hendrayana menambahkan bahwa esensi dari studi banding adalah keberanian untuk saling mengadopsi hal-hal baik demi melahirkan inovasi baru. Hubungan bilateral yang sehat antarhimpunan ini wajib dirawat secara konsisten agar mampu menumbuhkan iklim organisasi kemahasiswaan yang aktif, suportif, serta berdampak positif bagi lingkungan akademik secara luas. Melalui sesi FGD yang intensif, para fungsionaris dari kedua himpunan tampak antusias membedah berbagai tantangan manajerial, menyelaraskan formulasi program kerja, hingga merumuskan solusi taktis atas kendala internal masing-masing lembaga.

Jika ditinjau dari kontribusi sosial, pelaksanaan Saba Hima 2026 ini merepresentasikan langkah nyata dunia kemahasiswaan dalam mendukung pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Agenda ini secara langsung merefleksikan SDGs Poin 4 mengenai Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui metode pembelajaran kepemimpinan non-formal, serta SDGs Poin 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Melalui jejaring kemitraan yang kuat, mahasiswa ditempa menjadi motor penggerak yang siap berkolaborasi dalam ekosistem digital dan sosial yang dinamis.

Sebagai penutup, kesan mendalam dan penuh kehangatan dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Amjad Ali Jadie. “Kegiatannya sangat membantu untuk sharing-sharing dari berbagai perbedaan himpunan, agar bisa menambah wawasan mengenai himpunan yang lain. Bahkan saya bertemu kakak kandung saya yang berada di Hima Pedia, jadi benar-benar mempererat tali silaturahmi,” akunya dengan penuh antusias. Ungkapan testimoni tersebut menjadi penutup yang manis sekaligus membuktikan keberhasilan performa totalitas dari seluruh panitia pelaksana dalam menghidupkan marwah kebersamaan antarorganisasi mahasiswa.

Kontributor: Haidar Ali Dzulfikar, Dian Hendrayana